Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Firqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firqoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

Westernisasi

10/02/2001
Westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, kultural dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan bangsa-bangsa, terutama kaum muslimin, dengan gaya Barat. Dengan cara menggusur kepribadian Muslim yang merdeka dan karakteristiknya yang unik. Kemudian kaum muslimin dijadikan tawanan budaya yang meniru secara total peradaban Barat. Sekarang kebudayaan bangsa Indonesia sudah meniru kebarat-baratan. Usaha mereka telah berhasil. Apalagi ditunjang dengan tampilnya acara-acara TV yang terlalu berkiblat pada peradaban Barat. Kini jati diri kepribadian Muslim hanya tampak pada sebagian kecil ummat. Bangga dengan kebiasaan dan adat orang-orang kafir, sementara dengan adatnya sendiri merasa risih dan malu sudah nampak jelas di sebagian kalangan ummat Islam. 


SEJARAH BERDIRI DAN TOKOH-TOKOHNYA
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, orang-orang yang berpandangan Timur di dunia Islam, mulai memodernisasi dan memperkuat tentara mereka dengan cara mengirim kader-kadernya ke negara-negara Eropa, atau dengan mendatangkan para ahli dari Barat untuk mengajar dan membuat perencanaan bagi kebangkitan modern. Hal ini dilakukan dalam rangka menghadapi usaha keras orang-orang Barat dalam memperluas pengaruh kolonialisme mereka sesudah masa kebangkitan Eropa.
Sultan Mahmud II telah menguasai janisari (prajurit Turki pada masa khilafah) Osmaniyah tahun 1826 M dan menginstruksikan kepada orang-orang militer dan sipil supaya memakai pakaian Eropa.
Tahun 1255 H/1839 M Abdul Majid, salah seorang pengusa kesultanan Osmani, mengedarkan sebuah brosur yang isinya memperbolehkan non muslim menjadi anggota dinas militer.
Malah Sultan Salim III mendatangkan para teknisi dari Swedia, Perancis, Hongaria dan Inggris dalam rangka mendirikan sebuah Akademi Militer dan Angkatan Laut.
Muhammad Ali, Gubernur Mesir yang berkuasa tahun 1805 M, membentuk pasakan tentara sistem Eropa. Selain itu ia sengaja mengirim tenaga-tenaga Al-Azhar ke Eropa untuk mendalami berbagai disiplin ilmu.
Ahmad Basya Bey I membangun tentara reguler di Tunisia. Kemudian ia membangun akademi militer yang pengajarnya dari perwira-perwira Perancis, Italia dan Inggris.
Tahun 1852 M dinasti Qajar di Iran membuka sebuah akademi model Barat, yaitu Akademi Sceince dan Seni.
Perjalanan westernisasi dapat ditelusuri sejak tahun 1860 M ketika gerakan ini memulai aktifitasnya di Libanon melalui para zending Kristen. Dari sanalah kemudian merambat ke Mesir. Di bawah naungan Khudaiwi Ismail yang akan menjadikan Mesir sebagai bagian dari Eropa.
Rifa'ah Thahthawi dikirim untuk belajar di Perancis. Di sana ia tinggal selama 5 tahun (1826-1831 M). sarjana lai yang bertugas belajar di Perancis adalah Khairuddin al-Tunisia. Di Perancis ia menghabiskan waktu selama 4 tahun (1852-1856 M). setelah kembali keduanya menyebarkan ide-ide untuk menata masyarakat dengan dasar sekulerisme rasional.
Sejak tahun 1830 M para sarjana lulusan Eropa yang telah kembali ke negeri masing-masing mulai menerjemahkan buku-buku Voltaire, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain. Penerjemahan ini bertujuan menyebarkan pemikiran Eropa yang memberontak menentang agama, yang muncul pada abad ke-18.
Cromer mendirikan Akademi victoria di Iskandariyah. Tujuannya ialah untuk medidik generasi anak-anak para pejabat, tokoh dan pembesar dengan pola Inggris agar mereka bisa menjadi alat transformasi dan penyebaran peradaban Barat di masa mendatang.
Lord Loyd, Gubernur Inggris di Mesir, ketika meresmikan akademi tersebut pada tahun 1836 mengataka, "Untuk menginggriskan mereka tidak memerlukan waktu lama, terutama jika ada 10 orang yang terpercaya diantara dosen dan mahasiswa-mahasiswanya."
Orang-orang Nashrani Syam adalah orang yang pertama kali malakukan kontak dengan para zending dan missi Kristen serta menerima kebudayaan Perancis dan Inggris. Mereka juga menggalakan sekularisme liberalistik. Mengapa demikian ? mereka tidak memiliki loyalitas kepada Daulah Utsmaniyah. Hal itu mewujud dalam kekaguman mereka terhadap Barat dan seruan mereka supaya mengekor dan mengikuti cara-cara Barat. Fenomena itu muncul pada surat-surat kabar yang mereka terbitkan.
Nashif Yazji (1800-1871 M) dan anaknya, Ibrahim Yazji (1847-1906 M) mempunyai hubungan kuat dengan para missionaris Anglikan Amerika.
Butrus Bustani (1819-1883 M) pada tahun 1863 M mendirikan sebuah sekolah bahasa Arab dan science modern. Dengan demikian ia adalah orang Masehi pertama yang menyeru kepada Arabisme dan nasionalisme. Slogan yang didengungkannya ialah, "Cinta tanah air sebagian dari iman." Ia menerbitkan sebuah harian berbahasa Arab Al-Janan pada tahun 1870 M. harian ini sempat hidup selama 16 tahun. Resminya ia menjadi penerjemah pada Konsulat Amerika di Beirut. Bersama dua orang Amerika, Smith dan Van Dyck, ia menerjemahkan Protestanisme bagi Taurat .
Tokoh lainnya ialah Jurji Zaidan (1861-1914 M), seorang pendiri majalah terkenal Al-Hilal di Mesir tahun 1892 M. Ia dikenal sebagai orang yang luas hubungannya dengan missionaris Amerika. Ia merupakan penulis roman dan novel sejarah yang penuh dusta dan membuat tuduhan palsu terhadap Islam dan ummatnya.
Sulaiman Taqla, pendiri harian Al-Ahram di Mesir. Ia merupakan anak didik Van Dyck, seorang zending Kristen di Libanon. Kemudian pada tahun 1884 harian tersebut pindah ke Mesir.
Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897 M), seorang laki-laki yang peranan-peranannya di pandang aneh. Kehidupanya penuh misteri. Ia banyak melanglang buana di dunia Islam, baik di Timur ataupun di Barat. Ia termasuk orang yang berhasil memasukkan sistem perkumpulan rahasia modern ke Mesir dan menjadi salah satu anggota perkumpulan Free Massonry. Selain itu ia juga dikenal sebagai orang yang sangat erat hubungannya dengan Mr. Blunt dari Inggris.
Tentang Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha berkata, "Ia cenderung kepada faham 'wihdatul wujud'. Sedangkan persepsinya tentang asal usul manusia ia berteori mirip dengan Darwin."
Muhammad Abduh (1849-1905 M), salah seorang murid Afghani yang paling menonjol dan pembantu dekatnya dalam mengasuh majalah Al-'Urwatu al-Wutsqa. Dia dikenal sebagai orang yang punya hubungan baik dengan Lord Cromer dan W.S. Blunt.
Aliran Muhammad Abduh, termasuk di antaranya Rasyid Ridha adalah menyeru penghantaman taqlid dan menuntut supaya hukum Islam ditinjau kembali. Dari fatwa-fatwa mereka muncul pula beberapa pendapat yang bersandar pada ta'wil terhadap nash-nash yang jauh dari batas toleransi. Tampaknya Abduh ingin menta'wil nash-nash yang dapat mendekatkan Islam dengan peradaban Barat.
Selain itu juga ia menyerukan dimasukkannya materi science modern ke Universitas Al-Azhar. Sebuah upaya mengembangkan dan memodernisasi Al-Azhar, katanya.
W.S. Blunt, seorang orientalis kenamaan yang tak asing bagi dunia Arab. Ia bersama isterinya berkeliling di dunia Arab dengan memakai pakaian Arab dan menyeru nasionalisme Arab serta mendirikan 'Khilafah' Arabiyah sebagai upaya menghancurkan persatuan Islam.
Sa'ad Zaghlul, Menteri Pendidikan Mesir tahun 1906. Ia dikenal sebagai orang yang benar-benar menerapkan ide usang Cromer. Ia juga menyerukan didirikannya Sekolah Peradilan Islam. Tujuannya ialah untuk membuat saingan Al-Azhar dalam pengembangan pemikiran Islam.
Ahmad Luthfi Sayyid (1872-1963 M), salah seorang tokoh pendiri partai Al-Ahrar al-Dusturiyyin (orang-orang konstitusi bebas) yang secara politis memisahkan diri dari Sa'ad Zaghlul. Ia terkenal sebagai orang yang bersemangat menyerukan fanatisme kedaerahan yang sempit. Dialah pencetus sebuah slogan yang populer pada tahun 1909 di Mesir, "Mesir untuk Mesir." Ia pernah menjadi pejabat Urusan Persatuan Mesir sejak pemerintah Mesir menyerahkannya pada tahun 1916 sampai kira-kira tahun 1941 M.
Tokoh lain yang tidak asing lagi bagi ide pembaratan di dunia Islam ialah Thaha Husen (1889-1973 M). Ia merupakan murid langsung Durkheim. Dua bukunya berjudul Al-Syi'ru al-Jahili dan Mustaqbal al-Tsaqafah fi Mashr (Syair Jahiliyah dan Masa Depan Kebudayaan di Mesir) dinilai mengandung ide-ide dia yang paling berbahaya yang disebarkannya.

Dalam Al-Syi'ru al-Jahili halaman 26 ia berkata, "Taurat telah menceritakan kepada kita tentang Ibrahim dan Isma'il. Juga Al-Qur'an. Tetapi diceritakannya dua nama tersebut di dalam Taurat dan Al-Qur'an belum cukup menjadi bukti keberadaan dua tokoh tersebut secara historis."

Selanjutnya dia mengatakan, "Orang-orang Quraisy benar-benar siap menerima mitologi ini pada abad ke-8 Masehi."

Di tempat lain, dalam bukunya itu dia meniadakan mata rantai nasab Rasulullah SAW kepada pembesar-pembesar Quraisy.
Dalam satu ceramahnya tentang sastra dan bahasa, ia mengawali dengan memuji Allah dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Kemudian ia berkata, "Sebagian pendengar mungkin akan mentertawakan saya setelah mendengar ceramah ini. Karena saya mengawali ceramah ini dengan memuji Allah dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Suatu hal yang bertentangan dengan tradisi zaman modern." (Majalah Al-Hilal, edisi Oktober dan Nopember 1911 M).
Kemajuan westernisasi berkembang pesat setelah orang-orang Ittihad (Persatuan) menguasai pemerintahan Turki Utsmani dan jatuhnya Sultan Abdul Hamid pada tahun 1924 M
Kemudian pada tahun 1924 M pemerintahan Turki baru yang dipimpin Kamal Ataturk menghapus sistem khilafah Utsmaniyyah. Perubahan inilah yang menyeret Turki ke jurang sekularisme modern. Dengan keras dan kejam gerakan westernisasi dalam segala bentuknya dipaksakan di bumi Turki.
Pada tahun 1925 buku Ali Abdul al-Raziq berjudul Al-Islam wa Ushul al-Hukmi (Islam dan pokok-pokok pemerintahan) terbit di Mesir. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Urdu. Di dalam buku ini pengarang berusaha keras meyakinkan pembaca bahwa Islam hanyalah agama, bukan negara.
Tetapi pemikiran semacam ini tidak berrkembang di dunia Islam. Misalnya Smith menunjuk dia ketika mengatakan bahwa kebebasan sekuleristik dan internasionalisme tidak akan berkembang di dunia Islam kalau tidak ditafsirkan secara Islam yang dapat diterima.
Buku Al-Islam wa Ushul al-Hukmi telah dilarang terbit dan pengarangnya dinyatakan harus dihukum oleh ulama Al-Azhar pada tanggal 12/8-1925. Pikirannya mendapat tantangan keras dari kelompok ulama.
Ia pernah memimpin majalah Rabithah Syarqiyyah dan mengadakan upacara penganugerahan penghargaan untuk Ernest Renan di Universitas Mesir. Upacara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati seratus tahun meninggalnya orientalis tersebut. Ernest Renan adalah orientalis yang gigih menyerang orang-orang Arab dan kaum Muslimin.
Mahmud 'Azmi, salah seorang propagandis fir'aunisme terbesar do Mesir ini, belajar tentang orientalisme kepada Durkheim. Ia pernah berkata kepada Muhammad 'Azmi, "Jika Anda berbicara masalah ekonomi, maka jangan sebut-sebut syari'ah. Jika Anda membicarakan syari'ah, jangan sebut-sebut ekonomi."
Pendukung westernisasi lain ialah Manshur Fahmi (1886-1959 M). Ia pernah mengajukan disertasi doktornya kepada Levy Bruhl yang berisi serangan terhadap sistem perkawinan dalam Islam. Di dalam disertasinya itu ia berkata, "Muhammad telah membuat undang-undang untuk semua manusia. Tetapi untuk dirinya sendiri banyak perkecualiannya." Lebih lanjut dia menyatakan, "Hanya saja ia (Muhammad) telah meringankan mahar dan saksi untuk dirinya sendiri."
Tetapi pada tahun 1915 dia sendiri mengkritik gerakan westernisasi. Ia mengakui terus terang terhadap kesalahan-kesalahan pemikirannya yang telah di bawa oleh Thaha Husein bersama alirannya.
Ismail Mazhhar, salah seorang tokoh aliran westernisasi (Majalah Al-'Ushur) yang kemudian berubah menjelang masa kebangkitan modern.
Salah seorang murid Thaha Husain yang terkemuka ialah Zaki Mubarak. Ia banyak belajar kepada orang-orang orientalis. Ia pernah menulis disertasi tentang Ghazali dan Ma'mun. Dalam disertasinya itu ia menyerang Ghazali habis-habisan. Tetapi ia kemudian sadar kembali dan menulis sebuah artikel yang terkenal, sebagai kritik atas disertasinya sendiri, berjudul "Ilaika A'tadziru Ayyuha al-Ghazali." (Aku Mohon Maaf Padamu Wahai Ghozali).
Muhammad Husein Haikal (1888-1956 M), pemimpin redaksi harian "Siyasah." Ia termasuk tokoh westernisasi yang menonjol. Ia dikenal sebagai seorang yang mengingkari peristiwa Isra' dan Mi'raj, baik dengan ruh ataupun dengan jasad. Pengingkarannya itu bertolak dari pandangan rasionalistik (Hayatu Muhammad). Tetapi kemudian dia dinilai berubah sikap menjadi sangat moderat. Dalam kata pengantar buku "Fi Manzili al-Wahyi" ia mengungkapkan orientasi barunya di dalam pemikiran Islam.
Amin Khuli adalah dosen ilmu tafsir dan balaghah di universitas Mesir yang selalu mempromosikan ide-ide Thaha Husein dalam mempropagandakan pengkajian Al-Qur'an melalui pendekatan sastera murni, tanpa mengindahkan aspek keagamaan. Sepak terjangnya berjalan sampai tahun 1949 dan berakhir setelah dibongkar habis oleh Mahmud Syalthut.
Syibli Syumail (1860-1917 M) seorang penganjur sekulerisme yang menggebu-gebu dalam menyerang nilai-nilai agama dan akhlak.

PEMIKIRAN DAN DOKTRIN-DOKTRINNYA
Pertama : Indikasi adanya ide westernisasi
Rasulullah SAW bersabda, "Kamu pasti akan mengikuti tradisi orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kamu akan ikut masuk pula."
Ibnu Khaldun berkata, "Orang kalah selalu erkeinginan mengikuti yang menang dalam segala hal; dalam berpakaian, berperilaku dan adat kebiasaannya."
Seorang orientalis Inggris H.A.R.Gibb dalam bukunya Wither Islam berkata, "Di antara fenomena penting politik westernisasi di dunia Islam ialah tumbuhnya perhatian membangkitkan kembali peradaban-peradaban klasik."
Dalam pembahasannya itu ia berterus terang menyatakan bahwa sasaran pembahasan ialah untuk mengetahui "Sejauh mana gerakan westernisasi ini mencapai Timur dan faktor apa saja yang menjadi penghambatnya."
Ketika Lord Allenby memasuki Al-Quds tahun 1918 ia berteriak, "Sekarang tamatlah perang."
Lawrence Brown berkata, "Ancaman hakiki terhadap peradaban Barat terkandung di dalam sistem Islam dan kemampuan expansinya, ketundukan dan dinamika ajarannya. Islam adalah satu-satunya tembok penghalang bagi kolonialisme Barat."
Munculnya berbagai imbauan yang menyerukan dunia Islam supaya mengikuti pola peradaban Barat.
Adanya penggalakan ide pembentukan pemikiran Islam yang maju, yang menjustifikasi model Barat. Tujuannya ialah menghapus keunikan karakteristik kepribadian Islam, agar kemantapan hubungan antara Barat dan dunia Islam terwujud, dan mengabdi kepada kepentingan Barat.
Bermunculannya seruan yang bersifat nasionalistik dan pengkajian sejarah kuno serta ajakan kebebasan yang dipandang sebagai asas kemajuan bangsa. Berbarengan dengan itu ditonjolkannya sistem ekonomi Barat dengan penuh pesona dan kekagumana serta diulang-ulanginya pembicaraan mengenai poligami dalam Islam, pembatasan thalaq dan ikhtilath (pencampuran) antara pria dan wanita.
Tersebarnya ide internasionalisme dan humanisme yang oleh pendukungnya dianggap sebagai jalan menuju kesatuan idiologi bagi seluruh ummat manusia yang mampu mengikis segala perbedaan agama dan etnis dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia. Agar bumi ini menjadi satu negara yang beragama dan berbahasa satu serta budaya sama.
Tipu daya tersebut merupakan upaya pengebiran pemikiran Islam dan mengeliminasinya dari kenyataan hidup, serta menempatkannya pada salon-salon yang dikuasai para pendukung idiologi dunia yang sedang berkuasa.
Tersebarnya idiologi nasionalisme merupakan langkah menuju westernisasi pada abad ke-19. Idiologi ini di transfer dari Eropa ke Arab, Iran, Turki, Indonesia dan India. Tujuannya untuk merobek-robek kesatuan dunia Islam dan mencingcangnya menjadi bagian-bagian kecil berdasarkan ikatan geografis. Akibatnya bermunculan negara-negara nasional berdasarkan asal-usul ras, darah dan keturunan yang sama.
Meningkatnya perhatian orang dalam membangkitkan peradaban klasik, H.A.R.Gibb berkata, "Di antara fenomena penting polotik westernisasi di dunia Islam ialah tumbuhnya perhatian untuk membangkitkan kembali peradaban-peradaban klasik yang berkembang pesat di berbagai negara, yang dewasa ini cukup meyibukan kaum muslimin. Perhatian dunia Islam sekarang inimasih terbatas pada kuatnya permusuhan terhadap Eropa. Tetapi di masa mendatang tidak mustahil hal itu akan memegang peranan penting di dalam memperkuat nasionalisme-nasionalisme lokal dan memperkokoh sendi-sendinya."
Rockefeller, Yahudi fanatik ini, pernah mengeluarkan dana 10 juta dolar Amerika untuk pembangunan musium peninggalan fir'aun di Mesir dan mendirikan sebuah akademi arkeologi di negeri itu.
Munculnya perhatian orang untuk mengkaji tokoh (pribadi) misterius di dalam sejarah Islam, seperti Sukhrowardi, Ibnu Rowandi dan Abu Nawas.
Louis Massignon, seorang orientalis terkenal, telah melakukan penelitian terhadap Al-Hallaj. Pada tahun 1912 hasil penelitiannya diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Al-Hallaj al-Shufi al-Syahid fi al-Islam (Al-Hallaj adalah shufi syahid di dalam Islam). Kitab-kitab Al-Hallaj kemudian ditahqiq dan diedarkan secara meluas. Demikian juga kumpulan puisinya.
Munculnya perhatian di dunia Islam untuk menyebarkan dan mendukung gerakan-gerakan sesat seperti Qadianisme, Bahaisme, Chauvinisme, Fir'aunisme, Finiqisme dan Barbarisme.
Kemudian muncul pula kecenderungan untuk menghidupkan kembali aliran-aliran seperti Qaramithah dan Gerakan Negro, dengan dalih bahwa semua itu merupakan gerakan kemerdekaan revolusioner di dunia Islam. Selain itu disanjung-sanjung pula pribadi-pribadi yang berbahaya seperti Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), Amir Ali(1849-1928 M), Namiq Kamal (1840-1888 M), Abdul Haq Hamid(1851-1937 M), Taufiq Fikrat (1870-1915 M) dan Sanggulaji (1890-1943).
Kolonialisme, Orientalisme, Komunisme, Free Massonry dengan seluruh cabang-cabangnya, Zionisme dan para propagandis penyatuan agama, semuanya bersatu mendukung gerakan westernisasi. Tujuannya adalah untuk menghancurkan dunia Islam menjadi berkeping-keping, menundukkannya hingga menjadi makanan yang empuk bagi mereka.
Fenomena lain ialah tersebarnya aliran-aliran yang merusak Islam seperti Freudisme, Darwinisme, Marxisme, slogan pengembangan moral (Levy Bruhl) dan pengembangan masyarakat (Durkheim). Juga berkembangnya perhatian terhadap existensialisme, sekularisme, liberalisme, pengkajian tentang tashawuf Islam, seruan nasionalisme, sukuisme dan kebangsaan. Selain itu tumbuh kecenderungan berkembangnya ide pemisahan antara agama dan negara, upaya pendangkalan agama, penyerangan terhadap Islam,wahyu, Rasul dan sejarah Islam. Kemudian lahir pula sikap ragu terhadap nilai-nilai Islam dan seruan membebaskan orisinalitas dan keunikan Islam serta menumbuhkan takut mati dan kemiskinan. Semua itu bertujuan mencabut fikrah jihad dari akal dan kalbu kaum Muslimin. Berbarengan dengan itu disebarkan pula isu bahwa penyebab kemunduran bangsa Arab dan ummat Islam adalah Islam.
Munculnya anggapan bahwa Al-Qur'an merupakan luapan akal budi disertai dengan sanjungan terhadap kejeniusan Muhammad SAW, kecemerlangan dan kebersihan jiwanya. Ini merupakan langkah awal untuk menghapus sifat kenabian yang ada pada diri Muhammad.
Kedua : Konferensi-konferensi tentang westernisasi

  1. Konferensi Baltimore, tahun 1942. Dalam konferensi ini direkomendasikan supaya digalakkan pengkajian Islam dan mengintodusir gerakan-gerakan rahasia ke dalam tubuh ummat.
  2. Tahun 1947 di Universitas Princeton, Amerika Serikat diadakan konferensi yang bertujuan melakukan pengkajian terhadap masalah-masalah kultural dan sosial di Timur Dekat. Hasil konferensi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan ini menduduki urutan ke 116 dari proyek pengadaan 1000 buah buku di Mesir. Dalam konferensi ini hadir antara lain T. Cuyler Young, Habib Kurani, Abdul Haq Edward dan Louis Thomas.
  3. Konferensi tentang kebudayaan Islam dan kehidupan modern di universitas Princeton pada musim panas tahun 1953 M. hadir dalam konferensi ini para pemikir seperti Mill Broze, Harold Smith, Raphael Patai, Harrold Allen, John Croswell, Syaikh Mushthafa Zarqa, Kenneth Cragg, Isytiyaq Hussein dan Fazlur Rahman dari India.
  4. Konferensi ke III direncanakan di Lahore, Pakistan tahun 1955, tetapi gagal. Rencananya akan mengikutsertakan pakar-pakar dan peneliti Muslim serta para orientalis dalam mengarahkan kajian-kajian tentang Islam.
  5. Tahun 1953 diselenggarakan konferensi gabungan Islam - Kristen di Beirut Lebanon. Kemudian di Iskandariyah, lalu berturut-turut diselenggarakan di Roma dan negara-negara lain berupa pertemuan dan seminar-seminar dengan maksud yang sama.
Ketiga : Buku-buku tentang westernisasi yang berbahaya

  1. Islam Modern History karangan W.C. Smith, derektur Institute of Islamic Studies dan guru besar ilmu perbandingan agama pada Mc. Gill Unversity Kanada. Ia meraih gelar doktor dari Princeton University tahun 1948 di bawah bimbingan orientalis terkenal H.A.R. Gibb. Ia pernah menjadi mahasiswanya ketika Smith belajar di Cambridge University. Buku ini menyerukan liberalisme, sekulerisme dan pemisahan antara agama dan negara.
  2. Wither Islam karangan H.A.R. Gibb yang diterbitkan di Libanon pada tahun 1932. Buku ini disusun bersama sejumlah orang-orang orientalis. Isinya berupa kajian penting tentang sebab-sebab terhambatnya proses westernisasi, cara mengembangkan dan mamajukannya.
  3. Protokolat hakim-hakim zionisme yang muncul di seluruh dunia tahun 1902 M. buku ini pernah dilarang masuk ke Timur Tengah dan dunia Islam sampai kira-kira tahun 1952 M, yakni beberapa tahun setelah berdirinya negara Israel di jantung dunia Arab dan Islam. Dapat dipastikan, pelarangannya itu berkaitan erat dengan pengkhidmatan Yahudi terhadap gerakan westernisasi secara umum.
  4. Buku-buku yang berisi gambaran tentang figur-figur sebagai tokoh Islam dalam bentuk usang, cabul dan palsu, seperti gambaran dalam buku Seribu Satu Malam, Harun al-Rasyid, kisah yang ditulis Jurji Zaidan. Demikian pula buku-buku yang bersandar pada mithologi klasik yang diramu ke dalam sejarah Islam seperti buku 'Ala Hamisi al-Sirah oleh Thaha Husein dan buku buku yang mengingkari kenabian dan wahyu seperti buku Muhammad Rasulu al-Hurriyah (Muhammad Rasul Pembebas) oleh Syarqawi.
AKAR PEMIKIRAN DAN SIFAT IDIOLOGINYA
Pasukan salib telah menderita kekalahan berulang kali setelah perang Hiththin. Orang-orang Turki Osmani menaklukan ibukota Bizantium dan pusat gereja mereka pada tahun 1453 M. kemudian kota tersebut dijadikan ibu kota Turki dan namanya diubah menjadi Istambul, yakni Dar al-Islam (Negara Islam).
Selain itu pasukan Islam Turki dapat sampai ke Eropa dan menggempur Wina pada tahun 1529 M. penggempuran ini berlangsung sampai tahun 1683 M. semua itu diawali dengan jatuhnya Andalusia yang dijadikan pusat pemerintahan dinasti Umawiyah.
Peristiwa-peristiwa tersebut mendorong munculnya westernisasi sebagai upaya menebus kekalahan yang mereka derita selama itu. Sedangkan kristenisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari westernisasi. Tujuan utamanya tidak lain yaitu untuk menghancurkan dunia Islam dari dalam.
Westernisasi pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konspirasi Kristen-Zionis-Kolonialis terhadap ummat Islam. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan bersama, yaitu membaratkan dunia Islam agar kepribadian Islam yang unik terhapus dari muka bumi ini.

PENYEBARAN DAN KAWASAN PENGARUHNYA
Gerakan westernisasi telah mampu merembes hampir di setiap negara di dunia Islam dan negara-negara Timur. Dengan diam-diam masyarakatnya terseret ke dalam peradaban Barat yang materialistik dan modern. Akibatnya mereka terikat oleh roda peradaban Barat.
Pengaruh westernisasi ini berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain. Hal itu tampak jelas di Mesir, Iraq, Palestina, Suriah, Yordania, Turki, Indonesia dan Marokko.
Gerakan ini merembes ke seluruh dunia Islam. Akibatnya tidak ada satu negeri muslim atau negeri Timur yang tidak dirembesi oleh gerakan ini.

Senin, 16 Mei 2011

Rotary Club


Rotary adalah sebuah organisasi mantel Free Masonry yang sepenuhnya dikendalikan Yahudi internasional. Organisasi ini lebih populer dengan sebutan Rotary Club: dari kata-kata in rotation, sebuah ungkapan yang dibarengi dengan pertemuan-pertemuan utama bagi para anggota club yang dilaksanakan di kantor-kantor mereka secara bergilir.
Sejarah Berdiri dan Tokoh-tokohnya
Paul Harris, seorang tokoh advokat, pertama kali mendirikan Rotary Club di Chicago pada tahun 1905. Tiga tahun kemudian, Shirley Barry bergabung ke dalam club ini dan memperluas gerakannya dengan cepat. Ia kemudian menjadi sekretaris club dan kemudian mengundurkan diri dari club ini pada tahun 1942. Paul Haris meninggal tahun 1947 setelah gerakannya berkembang ke 80 negara dan mempunyai 6800 club serta 327.000 anggota.
Kemudian pusat gerakan ini pindah ke Dublin, Irlandia pada tahun 1911 atas jasa seorang aktifis yang bernama Mr. Moore. Ia pernah mempersoalkan komisi dari setiap anggota baru organisasi ini yang tersebar di Inggris.
Pada tahun 1921 Rotary Club berdiri di Madrid. Tetapi kemudian dibekukan dan dilarang melakukan aktifitas di seluruh Spanyol.
Pada tahun 1921 Rotary Club berdiri di Palestina. Ketika itu negara masih menjadi impian zionis. Ia merupakan salah satu cabang Rotary yang paling lama berdiri di kawasan negara-negara Arab. Tahun 30-an berdiri cabang-cabang Rotary di Aljazair dan Maroko dibawah perlindungan penjajahan Perancis. Di Tripoli Barat terdapat cabang Rotary. Anggota Dewan administrasinya antara lain John Robinson dan Von Krieg.
Jacob Barzef adalah ketua Rotary Club Israel pada tahun 1974. Pada tanggal 14 Maret 1973 ia bertolak menuju ke kota Taormina di Sisilia untuk menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan Rotary Club Italia. Dalam konferensi itu ia menyatakan akan terjadinya sebuah konferensi Arab-Israel. Sebab di dalam konferensi itu telah hadir delegasi berbagai negara Arab dan delegasi Israel.
Pembicara pertama dalam konferensi itu ialah Mukhtar Aziz , utusan Rotary Club Tunisia. Kemudian disusul dengan utusan Israel, Jacob Barzef, seorang Yahudi militan.
Pemikiran dan Doktrin-doktrinnya
Agama tidak dijadikan standar dalam pemilihan anggota atau dalam hubungan sesama anggota; juga tidak dipermasalahkan tentang kewarganegaraan seseorang.
Rotary Club mencekoki anggotanya agar mengikuti agama yang diakui atas dasar persamaan sesuai urutan abjad, seperti Budha, Islam, Yahudi, Masehi dan seterusnya. Dalam urutan terakhir tersebut Taoisme, sebuah keyakinan orang-orang Tiong Hoa yang muncul pada abad ke-6 SM , meyakini bahwa kebahagiaan dapat terpenuhi dengan tercapainya kebutuhan insting manusia dan kemudahan hubungan sosial dan politik sesama manusia.
Menggugurkan anggapan "agama" memenuhi perlindungan kepada Yahudi dan memudahkan mereka merasuk ke berbagai aktifitas kehidupan. Terbukti dengan dianggap perlunya keberadaan minimal dua orang Yahudi setiap club.
Menurut mereka, amal kebaikan harus dilaksanakan karena menunggu balasan materi atau non materi. Ini jelas bertentangan dengan konsep agama yang mengaitkan pekerjaan suka rela dengan pahala berlipat ganda di sisi Allah.
Mereka mengadakan pertemuan mingguan: setiap anggota harus hadir 60 % dalam setahun. Keanggotaan tidak terbuka untuk semua orang. Orang yang berminat menjadi anggota harus menunggu undangan club untuk bergabung dengannya sesuai dengan prinsip selektifitas. Klasifikasi keanggotaan didasarkan kepada pekerjaan pokok yang mencakup 77 macam jenis pekerjaan. Para pekerja (buruh) tidak dibenarkan menjadi anggota club. Club hanya memilih orang yang memiliki status sosial tinggi. Tingkat usia anggota sangat diperhatikan. Mereka bekerja menghidupkan organisasi dengan cara merekrut kaum laki-laki berusia produktif.
Dalam setiap club, harus ada seorang wakil dari setiap profesi. Aturan ini sering dijadikan kesempatan untuk mengangkat anggota yang disukai dan menyingkirkan yang tidak disukai. Dalam Dewan Administrasi Club, harus ada satu atau dua orang ketua club lama, sebagai pewaris langsung rahasia Rotary sejak Paul Harris.
Charles Marden yang pernah menjadi anggota Rotary selama tiga tahun, telah melakukan studi terhadap organisasi ini. Kemudian ia mengemukakan beberapa data berikut: Setiap 421 orang anggota Rotary Club, 159 orang di antaranya mempunyai keterikatan kuat dengan Freemasonry. Loyalitas mereka terhadap Freemasonry melebihi clubnya. Dalam beberapa hal keanggotaan Rotary hanya terbatas untuk orang-orang Freemasonry, seperti di Edinburgh Inggris pada tahun 1921.
Dalam sebuah perkumpulan yang disebut Nan's di Perancis disebutkan, "Jika orang-orang Freemasonry membentuk organisasi yang bekerja sama dengan golongan lain, maka urusan organisasi tidak boleh berada di tangan orang lain. Personil organisasinya harus dipegang orang-orang Freemasonry dan harus berjalan sesuai dengan prinsip Freemasonry."
Ketika Freemasonry mengalami penyusutan, justru Rotary mendapat dukungan sangat besar dan aktifitasnya semakin kuat. Hal ini dikarenakan orang-orang Freemasonry mengalihkan segala aktifitasnya kepada club Rotary sampai tekanan-tekanan terhadap mereka hilang dan kondisinya kembali seperti semula.
Rotary didirikan 1905, yaitu tahun-tahun menjelang aktifnya Freemasonry di Amerika. Di antara programnya ialah diselenggarakan kunjungan antar club. Di beberapa kota dibentuk Dewan Pimpinan Club sebagai koordinator antar club. Untuk menjadi anggota atau simpatisan Rotary maupun Freemasonry, seseorang harus menunggu panggilan dari pengurus club.
Ada beberapa club yang ide dan caranya sangat mirip Rotary, yaitu Lions, Kiwany, Exchange, Meja Bundar, Pulpen dan B'Nai B'Rith. Bentuk dan aktifitas club-club ini hampir sama dengan Rotary, begitu juga tujuannya, kendati dalam beberapa hal terdapat perbedaanya tetapi hal itu hanyalah untuk memperbanyak cara penyebaran ide dan penyedotan pendukung.
Akar Pemikiran dan Sifat Idiologinya
Dalam soal agama dan tanah air serta keteguhannya memegang prinsip selektifitas, Rotary Club mempunyai persamaan besar dengan Freemasonry. Keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang nilai dan semangat yang membentuk jiwa seseorang, seperti: ide egaliti, fraterniti, semangat humanisme dan kerjasama internasional. Ini adalah semangat yang sangat berbahaya yang diarahkan untuk mengikis karakteristik bangsa-bangsa dan menguburkan segala bentuk loyalitas, sehingga pribadi-pribadi akan kehilangan identitas dan harga diri serta hidup dalam kebimbangan. Akibatnya, tak ada lagi kekuatan yang dominan kecuali orang-orang Yahudi yang terus-menerus berambisi mendominasi dunia.
Rotary dan club-club yang sejenis dengannya bekerja aktif sesuai rencana Yahudi di bawah naungan dominasi Freemasonry serta orang-orang yang berperan aktif dalam Yahudi internasional, baik secara teoritis maupun secara praktis. Organisasi ini sepenuhnya untuk kepentingan Yahudi.
Dalam kepemimpinan, antara Rotary dan Freemasonry tidak sama. Ketua dan pimpinan Freemasonry tetap misterius. Sebaliknya, mungkin saja Rotary dapat ditelusuri asal-usulnya, baik pendiri maupun pimpinan-pimpinan terasnya. Untuk mendirikan cabang Rotary di mana saja, tidak boleh sembarangan, kecuali dengan pengukuhan dari pucuk pimpinan internasional dan di bawah pengawasan kantor lama.
Dalam rangka kemudahan hubungan dengan berbagai sekte dan golongan, Rotary berpura-pura membatasi aktifitasnya dalam masalah-masalah sosial dan kultural demi kemanusiaan. Cara pencapaian sasarannya melalui pertemuan-pertemuan berkala, seminar, ceramah yang mengarah kepada upaya mendekatkan antar agama dan menghapus segala perbedaan keagamaan: ini mirip dengan ceramahnya para pendudung teologi inklusive seperti yang digemar-gemborkan kelompok jaringan Islam Liberal.
Motivasi Rotary yang sebenarnya ialah membaurkan orang-orang Yahudi dengan bangsa lain dengan mengatasnamakan kasih dan persaudaraan. Melalui jalan ini mereka mampu mengumpulkan berbagai maklumat yang dapat membantu mereka dalam membantu tujuan mereka yang bersifat ekonomis dan politis, juga membantu mereka dalam menyebarkan tradisi tertentu yang akan memastikan timbulnya kemerosotan (degenerate) sosial. Ini dapat kita lihat melalui persyaratan keanggotaan yang hanya diberikan kepada orang-orang penting dan menonjol di masyarakat.
Tempat Tersiar dan Kawasan Pengaruhnya
Pertama kali Rotary tumbuh di Amerika pada tahun 1905, kemudian pindah ke Inggris dan menyebar ke beberapa negara Eropa lainnya. Dari benua itu, club ini kemudian menyebar dan memiliki cabangnya di hampir seluruh dunia.
Ia mempunyai cabang di Israel dan club-club di negara-negara Arab: Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair, Libiya, Maroko dan Libanon. Beirut adalah pusat perkumpulan tersebut di Timur Tengah.
Sumber: Diadaptasi dari Gerakan Keagamaan dan Pemikiran; Akar Idiologis dan Penyebarannya, WAMY

Minggu, 08 Mei 2011

Murjia'ah



Murjiah secara bahasa  memiliki arti : Angan-angan, takut ,mengakhirkan, memberi, mengharap.
 Firman Allah  dalam surat  An nisa’ :104 : "Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka ".
Dan firman-Nya dalam Surat Nuh :13 : "Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah ".
Kata Roja’ mempunyai arti takut yaitu apabila  lafadz Roja’ bersama dengan huruf  nafi. Adapun  Irja’ yang mempunyai arti  takhir (mengakhirkan ) sebagaimana dalam firman-Nya surat Al a’rof :111 yang dibaca arji’hu yaitu akhirhu. ( Firoq muashiroh Juz II hal 745 )

            Secara istilah para ulama berbeda pendapat tentang ketepatan dalam mengartikan  Murjiah, secara ringkas  Murjiah adalah   :
1. Irja diambil dari kata bahasa  yang berarti  “takhir dan  imhal “ (mengakhirkan dan meremehkan ). Irja semacam ini adalah irja (mengakhirkan)  amal dalam derajat iman  serta menempatkannya pada posisi kedua  berdasarkan iman,  dia bukan menjadi sebagian  iman,  karena iman secara majaz tercakup didalamnya  amal. Padahal amal itu sebenarnya adalah sebagai pembenar dari iman sebagaimana yang telah diucapkan  kepada  orang–orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat itu tidak bisa membahahayakan keimanan sebagaina  ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.
Pengertian seperti  ini tercakup juga didalamnya orang-orang yang mengakhirkan amal dari niat dan tashdiq ( pembenaran ) .
2. Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud  dengan “Irja“  adalah  mengakhirkan hukuman kepada pelaku dosa besar sampai hari kiamat  yang mana dia tidak akan diberi balasan dengan hukuman  apapun ketika masih di dunia.
3. Sebagian mereka  ada yang  mengartikan  “Irja“ dengan perkara yang terjadi pada Ali, yang mana Ali,  diposisiskan  pada peringkat keempat dalam tingkatan sahabat. Atau mengakhirkan  urusan Ali  dan Utsman  kepada  Allah  serta tidak  menyatakan bahwa mereka berdua beriman atau kafir, sebagian orang murjiah ada yang tidak memasukkan sebagian sahabat yang  berlepas diri dari fitnah yang terjadi diantara sahabat Ali dan Muawiyah dalam pengertian Irja ini . ( Firoq muashiroh Juz II hal 745 )
Sejarah munculnya Murjiah
            Pada awalnya Irja  muncul untuk mengcounter  paham khowarij yang mengkafirkan hakamain [dua orang yang memutuskan perkara dalam masalah Ali dan  Muawiyah] juga untuk mengcounter Ali bin Abi Tholib,   Irja  semacam ini  bukanlah Irja yang bersangkutan dengan  iman. Mereka  ini hanya membicarakn tentang  perkara dua kelompok yang berperang diantara para sahabat saja.
            Dan orang yang pertama  kali berbicara dalam  masalah Irja adalah  Al Hasan bin Muhammad bin Hanifah, beliau meninggal pada tahun 99 H,  dan setiap orang yang  mengisahkan riwayat hidupnya akan  menyebutkan hal tersebut.
            Ibnu  Sa’ad berkata  : Al Hasan  adalah orang yang pertama kali mengatakan  tentang irja, dikisahkan  bahwa Zadzan  dan Maisaroh  datang kepadanya dan langsung mencelanya, lantaran  sebuah buku  yang ia tulis tentang irja, maka Al Hasan berkata pada Zadzan : " Wahai Abu Umar  sungguh aku  lebih suka mati dan aku dalam keadaan tidak menulis buku tersebut”.
            Buku yang ditulis oleh Al Hasan ini hanyalah Irja tentang sahabat yang ikut serta dalam perselisihan yang terjadi  setelah Wafatnya Abu Bakar dan Umar.
Orang-orang Murjiah mengatakan bahwa Iman adalah amalan hati saja atau amalan lisan saja atau kedua-duanya  bukan amalan yang bermakna rukun ( amalan dzohir ), serta iman itu tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Sampai-sampai perbuatan kafir dan zindik pun  tidak membahayakan bagi keimanan seorang muslim.
            Dalam madzhab Abu Hanifah iman itu hanya sampai  pada pembenaran dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan, maka yang satu tidak berguna bagi  yang lainnya, barang siapa yang beriman dengan hatinya tapi berdusta / kafir dengan lisannya, maka bukanlah seorang mukmin.( Firoq Muasiroh : 2 / 749 )
Pembagian Murjiah
            Ibnul Jauzi mengatakan  bahwa Murjiah terbagi menjadi  11 bagian  :       
1. Attarikah
Mereka mengatakan : Tidak ada  kewajiban bagi seorang hamba kepada Allah selain hanya  beriman saja. Barang siapa yang telah beriman kepada-Nya dan telah mengenal-Nya maka dia boleh berbuat sesukanaya. 
2. Assaibiah
Mereka mengatakan : Sesungguhnya Allah  membiarkan hamba-Nya untuk berbuat sesukanya. 
3. Ar Rojiah
Mereka mengatakan : Kami  tidak mengatakan taat bagi orang yang taat, dan juga tidak menyebut maksiat bagi orang yang melakukan perbuatan maksiat karena kami tidak mengetahui   kedudukan  mereka di sisi Allah.
4. Asy- Syakiah
Mereka mengatakan  : Sesungguhnya ketaatan itu bukanlah dari iman.
5. Baihasyiah  ( nisbah pada  Baihasy bin Haishom )
 Mereka mengatakan : Iman itu adalah ilmu, barang siapa yang tidak mengetahui yang hak dan yang batil, juga tidak mengetahui halal dan haram maka dia telah kafir .
6. Manqushiah                                      
Mereka mengatakan  : Iman itu bertambah tapi tidak berkurang .
7. Mustatsniah
 Mereka  adalah orang-orang yang menafikan atau “istitsna“ ( pengecualian ) dalam hal keimanan.
8. Musyabbihah
Mereka mengatakan : Allah punya penglihatan sebagaimana penglihatanku juga punya tangan  sebagaiman tanganku.
9. Hasyawiah
Mereka menjadikan  hukum hadits semuanya adalah satu, dan menurut mereka  orang-orang yang meninggalkan amalan sunnah sama halnya orang yang  meninggalakn  amalan fardhu.
10. Dzohiriyah
Mereka adalah orang-orang yang menafikan ( tidak menggunakan ) qiyas.
11.Bid’iyyah
Mereka adalah orang pertama yang memulai bid’ah pada ummat ini.
Ghalib  Ali Awwaji dalam firoq muashiroh membagi Murjiah I’tiqodiyah (secara keyakinan) menjadi beberapa bagian yang sangat banyak, akan tetapi yang beliau sebutkan hanyalah  secara garis besarnya saja sebagaimana yang telah disebutkan oleh ulama firoq:
1. Murji’ah sunnah
Mereka adalah para pengikut hanafi, termasuk didalamnya adalah Abu hanifah dan gurunya Hammad bin Abi Sulaiman  juga orang-orang yang mengikuti mereka dari golongan Murji’ah  Kufah dan yang lainnya. Mereka ini adalah  orang-orang  yang mengakhirkan amal dari hakekat iman.
2. Murjiah Jabariyah
Mereka adalah jahmiyyah  ( para pengikut Jahm bin Shofwan ), Mereka  hanya mencukupkan diri dengan keyakina dalam hati saja .Dan menurut mereka maksiyat itu tidak berpengaruh pada iman  dan bahwasanya ikrar dengan lisan  dan amal bukan dari iman.
3. Murj’ah Qodariyyah
Mereka adalah orang yang dipimpin oleh Ghilan ad Damsyiki sebutan mereka Al Gilaniah
4. Murji’ah murni
Mereka adlah kelompok yang oleh para ulama diperselisihkan jumlahnya.
5. Murj’ah  karomiah
Mereka adalah  kawan-kawan Muhammad bin karom , mereka berpendapat bahwa iman hanyalah ikrar dan pembenaran dengan lisan tanpa pembenaran dengan hati
6. Murjiah khowarij
Mereka  adalah syabibiyyah dan sebagian kelompok shofariyyah  yang  tidak mempermasalahkan pelaku dosa besar. Al Asy’ari  dalam makalahnya menghitung murji’ah sampai 12 kelompok.( Firoq Muashiroh  halaman 761)
Akan tetapi secara ringkas Syaikhul Islam Ibnu taimiyah dalam majmu' fatawa membagi murjiah menjadi tiga bagian  :
 Pertama :Mereka yang mengatakan bahwa iman itu adalah hanya cukup di hati saja. Kemudian sebagian dari mereka ada yang memasukkan  dalam paham ini amalan hati. Mereka ini kebanyakan berasal dari murjiah, dan Abul Hasan Asy'ari telah menyebutkan  perkataaan  mereka di dalam bukunya. Di anatara mereka ada juga yang tidak memasukkan  amal dalam iman  seperti Jahm bin Shofyan dan orang-orang yang mengikutinya seperti Sholihi. Paham inilah yang dimenangkan oleh Jahm dan kebanyakan sahabatnya .
Kedua : Mereka yang mengatakan  bahwa iman itu hanya  ucapan lisan  saja. Dan pendapat yang kedua ini tidak dikenal sebelum  "Al Karomiyah".
Ketiga : Pendapat yang mengatakan bahwa iman itu adalah pembenaran dalam hati dan diucapkan dengan lisan. Pendapat yang  ketiga ini adalah pendapat ynag masyhur di kalangan ahli fikh  dan para pengikutnya. ( Majmu'  fatawa  Ibnu Taimiah juz 8 hal 195 )
Az-Zuhri berkata : Tidak ada bid’ah yang lebih berbahaya dalam Islam kecuali bid’ah  Irja.
Sedangkan menurut Al-Auza’i : Yahya bin Abi Katsir serta Qotadah mengatakan bahwa  Tiada  yang lebih ditakuti  oleh ummat  dalam hal  hawa  nafsu melebihi irja.
            Shofyan Ats-Tsauri  berkomentar : Murjiah  meninggalkan Islam lebih lembut dari pada  pakaian   Sabiri [jenis pakaian].
            Qotadah berkata :  Irja’ itu terjadi  setelah   adanya fitnah  kelompok  Ibnul Asy’ats. ( Majmu Fatwa  7/394-395 )
            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Para salaf telah mengkafirkan Jahmiyah.  Begitu juga Imam Ahmad  dan Waqi’  serta yang lainnya menyatakan atas kekafiran orang yang mengatakan bahwa iman itu hanya cukup ma’rifah di hati walaupun  tidak diucapkannya. Tetapi mereka tidak mengkafirkan  murjiah secara total, walaupun mereka tetap membid’ahkannya dan keras pernyataan tentangnya, sebagaimana yang dikisahkan oleh Syaikhul Islam tentang mereka seraya berkata : “Para salaf dan aimmah bersepakat untuk tidak mengkafirkan murjiah dan syi’ah mufaddlolah (Kelompok yang mendahulukan Ali dari pada Utsman ) dan yang lainnya. Sedangkan dalam kontek Imam Ahmad dinyatakan mereka tidak dikafirkan, walaupun sebahagian sahabatnya ada yang mengakafirkan seluruh Ahli bid’ah dari kalangan mereka dan sebahagian sahabatnya yang lain tidak mengkafirkan, sampai-sampai sebahiagian sahabatnya  menyatakan kekekalan mereka di nereka, ini adalah pendapat yang salah didalam madhab Imam Ahmad begitu pula menurut syari’ah. ( Manhaj Ibnu Taimiyahfi masalati takfir 2 / 327- 328 )
            Gholib Ali Awaji berkata : Secara realita  nash-nash yang dikemukakan untuk  menguatkan  murjiah  atas keluarnya amal dari hakekat iman  tidak bisa diterima fahamnya yang menyatkan bahwa amalan zhohir itu keluar dari amal hati, karena imannya hati kalaulah ia menjadi sebuah asas yang mana dia menjadi tolak ukur  pertama akan tetapi  hal terseut tidak menafikan bahwa iman hati menjadi zhahir dengan amalan anggota tubuh  bahkan hal tersebut   adalah yang benar sedangkan nash  yang sudah jelas  tidak hanya  menunjukkan atas  pembenaran hati  saja  akan tetapi  justru iman itu tidak akan menjadi jelas kecuali  harus ditunjukkan dengan amalan zhahir. Sedangkan orang-orang yang menyisishkan amalan zhahir dalam hakekat iman  bisa disimpulakan bahwa mereka itu ingin merigankan hukum sampai terhadap orang yang fajir yang sudah tidak diragkan lagi  kefajirannya
            Maka  lanjut Gholib, akan anda dapatkan diantara orang murjiah itu tidak mengkafirkan seseorang karena amalan zhohir walaupun telah datang wahyu yang menyatakan kekafirannya  secara nyata. Mereka tidak berani mengungkap kekafirannya sampai-sampai malahan mereka  berkeyakinan dari hati mereka bahwa dia masih beriman  karena orang tadi, kalau sudah  pernah  membenarkan syiar-syi’ar Islam maka tidak boleh dikafirkan walaupun mengamalkan kekafiran  kecuali kalau tashdiq-nya  telah hilang  dari hatinya  maka mereka baru  mau  mengkafirkannya.         
            Hal ini bisa terjadi dikarenakan mereka meninggalkan keterkaitan amal dengan keimanan hati, padahal sebenarnya amalan kafir yang ia lakukan itu bisa mengkafirkannya, apabila perbuatan tersebut telah ada wahyu yang menyatakan  bahwa pelakunya telah kafir, meskipun hati tidak mengkafirinya, begitu pula ketika anggota badan melakukan kekafiran seperti halnya  mencela Allah dan RosulNya atau mengutamakan undang-undang buatan manusia dari pada syariat islam

Mu'tazilah

 
Kata Mu'tazilah berasal dari kata 'azala-ya'taziluhu 'azlan wa'azalahu fa'tazala wa-in'azala wa-ta'azzala yang artinya menyingkir atau memisahkan diri.(Lisanul Arab 11/440).
Secara istilah Mu'tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai keyakinan lima pokok keyakinan (al ushul al-khamsah), meyakini dirinya merupakan kelompok moderat  di antara dua kelompok ekstrim yaitu Murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan Khowarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.
Perkembangan dan kelahiran Mu'tazilah
Sekte Mu'tazilah lahir pada masa pemerintahan Umawiyah, namun berkembang menjadi sebuah gerakan pemikiran yang menyibukkan dunia Islam dalam rentang waktu yang panjang pada masa pemerintahan Abbasiyah. Asal dari sekte ini adalah Washil bin Atho'(80 H-131 H ) yang hidup pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik al Umawy. Suatu hari seorang laki-laki masuk ke dalam pengajian imam Hasan Al Basri dan bertanya," Wahai imam, di zaman kita ini  telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kalangan Wa'idiyah Khawarij dan juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sama sekali bila bersama kekafiran yaitu kelompok Murji'ah. Bagaimana sikap kita ?" Imam Hasan Al Bashri terdiam, saat itulah Washil menyela," Saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mukmin secara mutlak dan tidak pula kafir secara mutlak, namun dia berada di satu posisi di antara dua posisi, tidak mukmin dan tidak pula kafir." Jawaban ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Al Qur'an dan As sunah yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin namun imannya berkurang. Tentu saja Imam Hasan Al Bashri membantah jaawaban Washil yang tak berlandaskan dalil tadi. Washil kemudian pergi ke salah satu sudut mesjid, maka imam Hasan Al Bahsri berkata," Ia telah memisahkan diri dari kita  (I'tazalanaa)." Sejak saat itu ia dan orang-orang yang mengikutinya di sebut Mu'tazilah, artinya kelompok yang memisahkan diri. (Al Milal wan Nihal hal. 47-48).
            Mu'tazilah lahir pertama kali di kota Basrah, namun berkembang dengan cepat di Baghdad. Sekte sesat ini dianut oleh kholifah Yazid bin Al-Walid dan Marwan bin Muhammad dari pemerintahan umawiyah. Sekte ini semakin merajalela pada masa pemerintahan Abbasiyah. Mu'tazilah mempunyai dua madrasah besar yang menjadi  pusat pengkaderan dan penyebaran ide-idenya, yaitu Basrah dengan pimpinannya Washil dan Baghdad dengan pimpinannya Bisyr bin Mu'tamar. Meski sama-sama Mu'tazilah, diantara kedua madrasah ini terjadi perbedaan pendapat dan perdebatan yang tajam. (At Tafsir wal Mufasirun juz 1/   241-242).  
            Perkembangan Mu'tazilah sepanjang sejarah bisa digambarkan secara ringkas sebagai berikut :
Sebelum Mu'tazilah lahir dalam bentuk sebuah sekte, di masyarakat saat itu sudah berkembang perdebatan yang sengit dalam hal pemikiran dan keagamaan. yaitu:
1. Pendapat yang mengatakan manusia itu merdeka secara mutlak (penuh), manusia menciptakan seluruh perbuatannya tanpa ada campur tangan Allah sedikitpun. Ini merupakan pendapat Ma'bad Al Juhani dan pendapat ini menjadi dasar sekte sesat Qadariyah. Ia bersama Abdurrahman bin Asy'ats memberontak melawan Abdul Malik bin Marwan. Ketika pemberontakan gagal, Ma'bad di bunuh oleh Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi, yaitu tahun 80 H.
2. Pendapat ini diulang lagi oleh Ghilan Ad Dimasqi pada masa Umar bin Abdul Aziz. Saat itu setelah dipanggil oleh kholifah ia bertaubat. Namun setelah Umar bin Abdul Aziz meninggal ia mengulangi lagi kesesatannya. Maka kholifah Hiyam bin Abdul Malik menghukum mati Ghilan.
3. Pendapat yang mengatakan Al Qur'an itu makhluk dan meniadakan sifat-sifat Allah. Ini pendapat Jahm bin Shafwan, pendapat sesatnya ini melatar belakangi lahirnya sekte sesat Jahmiyah. Ia di bunuh oleh gubernur Salim bin Ahwas di daerah Marwa pada tahun 128 H .
4. Pendapat yang meniadakan sifat Allah ini kembali di hidupkan oleh Ja'ad bin Dirham. Karena kesesatannya membahayakan kemurnian Islam, ia dibunuh oleh gubernur Kufah, Kholid bin Abdullah Al Qosari.
Kemudian Mu'tazilah tumbuh sebagai sebuah sekte sesat dengan keluarnya Washil bin Atho' dari pengajian imam Hasan Al Basri. Ia hidup pada masa Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik.
Pada masa pemerintahan Al Makmun di masa khilafah Abbasiyah, sekte Mu'tazilah menjadi sekte yang memegang peranan penting dalam pemerintahan karena kholifah menganut sekte ini, Pada masa itu para pemimpin Mu'tazilah seperti Biysr Al Muroisy, Tsumamah bin Asyros dan Ibnu Abi Du'at menjadi penasehat-penasehat Al Makmun. Pada masa inilah timbul fitnah yang terkenal dengan nama fitnah kholqul Qur'an dimana para ulama' ahlu sunnah yang menolak mengakui Al Qur'an itu makhluk di penjarakan dan disiksa,seperti Imam Ahmad. Hal ini berlangsung sampai pada pemerintahan Al Mu'tashim dan Al Watsiq.
Pada masa pemerintahan Al Mutawakil tahun  232 H, keadaan kembali normal dengan sikap kholifah yang menganut aqidah Ahlus sunnah dan dibebaskannya para ulama' setelah selama 14 tahun berjuang keras melawan Mu'tazilah yang memaksakan aqidahnya melalui struktur negara.
Pada masa pemerintahan bani Buwaih di Persia tahun 334 H, terjalin hubungan yang erat antara Mu'tazilah dan pemerintah yang berkuasa yang menganut ideologi Rofidhoh. Pemimpin Mu'tazilah qodhi Abdul Jabbar diangkat menjadi qodhi di daerah Rai sejak tahun 360 H,dengan perintah Shohib bin 'Ibad menteri Muayyid Daulah. Shohib ini menurut imam Adz Dzahabi adalah seorang Syi'i Mu'tazili Mubtadi'. Menurut imam Al Mu'tazi, dibawah perlindungan daulah Buaihiyah inilah Mu'tazilah bisa berkembang di Iraq, Khurosan dan negeri-negeri di belakang sungai / bilaadu ma wara-a nahr (Uzbekistan saat ini). (Al Mausu'ah al Muyassaroh 1/70-71).

Nama-nama Lain Mu'tazilah
            Mu'tazilah mempunyai beberapa nama, baik nama yang mereka sematkan sendiri maupun nama julukan dari orang di luar merka. Nama-nama tersebut adalah :
"Mu'tazilah, berawal dari penamaan imam Hasan Al Bashri terhadap Washil bin Atho' seperti yang telah disebutkan di awal tadi.
"Jahmiyah, dinamakan demikian karena Jahmiyah lebih dahulu muncul, juga karena Mu'tazilah sependapat dengan Jahmiyah dalam beberapa hal dan karena di awal kemunculannya Mu'tazilah menghidupkan prinsip-prinsip jahmiyah. (Firoqun mu'ashiroh 2/823 ).
" Qodariyah (kelompok yang menolak iman kepada takdir), dinamakan demikian karena mereka juga mengingkari taqdir dan berpendapat manusialah yang menciptakan perbuatannya sebagaimana pendapat Qodariyah .
"Tsanawiyah dan Qodariyah, dinamakan demikian karena Mu'tazilah berpendapat bahwa perbuatan baik itu dari Allah dan perbuatan jelek itu dari manusia. Ini menyerupai Tsanawiyah dan Qodariyah yang meyakini adanya dua tuhan, tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan .
"Wa'idiyah, dinamakan demikian karena mereka berpendapat bahwa Allah harus menyiksa pelaku dosa yang belum bertaubat sebelum matinya .
"Mu'athilah (kelompok yang meniadakan), dinamakan demikian karena mereka meniadakan sifat-sifat Allah.
"Al Munazihun lillah (orang-orang yang mensucikan Allah). Ini juga nama yang mereka yang mereka sematkan untuk mereka sendiri. (Firoqun Mu'asiroh 2/824-825).
Adapun beberapa Tokoh-tokoh Mu'tazilah yang berjasa besar mengembangkan dan membidani kelahiran serta kelangungan hidup sekte sesat ini aabanyak sekali, antara lain yang paling terkenal adalah Washil bin Atho',Amru bin Ubaid Abu Utsman Al Bashri, Abu Huzail Al 'Allaf, Ibrahim biin Sayar al Nidzam, Abu Utsman al Jahidz, Bisyr bin al Mu'tamad, Ma'mar bin Ibad al Silmy, Abu Musa Isa bin Shubaih, Tsumamah bin Asyras al Numairi, Abu Husain bin Abu Umar al Khayath dan Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad bin Abdul Jabbar al Hamdany.
Boleh dikata Mu'tazilah adalah sekte gado-gado, di dalamnya terkumpul perpaduan berbagai ajaran sesat dari banyak sekte sesat lain. Bila diteliti secara mendalam, akan ditemukan dalam sekte Mu'tazilah beberapa pemikiran sesat dari berbagai kelompok lain, yaitu :
1. Mu'tazilah mengambil pendapat menolak takdir dari Qadariyah. Syaikh Ghalib Ali Iwaji berkata," Patut disebutkan di sini, sesungguhnya Mu'tazilah telah sependapat dengan Qadariyah dalam masalah yang termasuk masalah aqidah yang paling penting, yaitu masalah taqdir dan kedudukan manusia menurut taqdir. Mu'tazilah dan Qadariyah berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia tapi manusialah yang menciptakan perbuatan mereka sendiri. Allah tidak mempunyai penciptaan apapun dalam hal ini, begitu juga tidak mmepunyai kemampuan (qudrah), kehendak (masyi-ah) maupun keputusan (qadha')." (Firaqun Mu'ashirah 2/826).
2. Mu'tazilah mengambil pendapat pengingkaran sifat Allah dari Jahmiyah. Ibnu Taimiyah berkata," Orang yang pertama kali berpendapat demikian dalam Islam adalah Ja'd bin Dirham. Ia dibunuh oleh Khalid bin Abdullah al Qasary pada hari 'Idul Adha…Perndapat ini kemudian diambil oleh Jahm bin Shofwan yang kemudian dibunuh oleh wali Khurasan Salamah bin Ahwaz. Pendapat ini kemudian dinisbahkan kepadanya dan dikenal dengan nama pendapat Jahmiyah, yaitu meniadakan sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan Allah tidak bisa dilihat di akhirat, tidak berbicara kepada hamba-NYa, tidak mempunyai  sifat ilmu, hayat, qudrah dan sifat-sifat Allah lainnya. Mereka mengatakan Al Qur'an itu makhluk. Mu'tazilah pengikut Amru bin Ubaid sependapat dengan Jahmiyah dalam masalah ini dan mereka menambah beberapa bid'ah baru dalam masalah taqdir dan lain-lain." (Majmu' Fatawa 12/502-503).
3. Mu'tazilah mengambil pendapat kekalnya pelaku dosa besar di neraka dari Khawarij. Ibnu Taimiyah berkata," Khawarij telah berpendapat kafirnya para pelaku dosa dari kalangan ahlu kiblat (umat Islam) dan mereka mengatakan,"Mereka itu kafir dan kekal di neraka." Maka manusia menyelami (ikut ramai berbicara) dalam pembicaraan masalah itu. Qadariyah juga ikut menyelami masalah ini setelah wafatnya Hasan al Bashri. Amru bin Ubaid dan pengikutnya mengatakan," Mereka (pelaku dosa besar) tidak muslim dan tidak pula kafir tapi mereka mempunyai satu kedudukan di antara dua kedudukan tadi. Mereka kekal di neraka." Mereka sependapat dengan Khawarij dalam kekalnya pelaku dosa besar di neraka dan bahwasanya pelaku dosa besar sama sekali tidak muslim. Namun mereka tidak menamakan pelaku dosa besar kafir. Mereka  memisahkan diri dari halaqah murid-murid Hasan Al Bashri seperti Qatadah dan Ayub As Sikhtiani. Sejak saat itu mereka disebut mu'tazilah yaitu sejak meninggalnya Al-Hasan. Ada juga pendapat mengatakan bahwa Qotadahlah yang mengatakan, "Mereka itu Mu'tazilah." Mu'tazilah sependapat dengan Khowarij dalam menghukumi pelaku dosa besar di akhirat namun tidak sependapat mengenai hukkum mereka di dunia. Mu'tazilah tidak menghalalkan darah dan harta pelaku dosa besar sebagaimana dilakukan oleh khowarij. Dalam masalah nama mereka mengadakan ikhtilaf baaru Al-Manzilah baina Manzilatain. Ini merupakan ciri khas Mu'tazilah yang membedakam mereka dengan selain mereka. Pendapat-pendapat mereka yang lain juga dikatakan oleh sekte-sekte lain." (Majmu' Fatawa ; 13/36-37).
Sempalan-sempalan Mu'tazilah banyak sekali, Asy Syahrastani menyebutkan ada 12 sekte. Sekte-sekte pecahan itu adalah Al Waasiliah, Al Hudzailiyah, An-Nadhomiah, Al Khobitiyyah wal Al Hadtsiyah, Al Bisyriyah, Al Mu'ammariyah, Al Mardariyah, Al Tsumamiyah, Al Hisyamiyah, Al Jahidziyah, Al Jubbaiyah Dan Al Bahmasyiyah. Allahu 'alam

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grocery Coupons