Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Khadijah Binti Khuwailid



Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan nasabnya sangat terjaga. Beliau besar di kalangan keluarga yang memiliki pencarian hidup sebagai pedagang besar. Maka tak heran jika sejak kecil beliau belajar bagaimana cara berbisnis yang baik dan menguntungkan namun tidak melanggar norma dan etika bisnis yang lurus. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.
Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagaimana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.
Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?
Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:
Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.
Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib  agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad  .
Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, keduanya meninggal waktu masih bayi - dan empat orang anak wanita: Fatima az-Zahra, Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Karena Qasim-lah kadang-kadang Nabi disebut Abul Qasim (ayah Qasim). Anak Khadijah - Zainab - dikawinkan dengan sepupu Zaenab. Kedua anak perempuan lainnya, Ruqaya dengan Usman - yang kemudian menjadi istri khalifah ketiga - dan Ummi Kalsum juga dengan Usman setelah Ruqaya meninggal dunia. Fatima az-Zahra, anak yang paling disayang Nabi, dinikahkan dengan Ali. Keturunan penerus Nabi ialah melalui anak laki-laki Fatima az-Zahra, Hasan dan Husain.
Kemudian Allah  menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi  pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.
Rasulullah  tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira' pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu. Selanjutnya Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: "Selimutilah aku ….selimutilah aku …".
Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah  , beliau bertanya:"Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku".
Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran”.
Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.
Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad  . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: “Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar, maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung”.Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: “Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah”. Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi  bersabda: “Apakah mereka akan mengusirku?”. Waraqah menjawab: “Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…”. Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.
Menjadi tenanglah jiwa Nabi  tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.
Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi  yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau  kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau  . Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!"(Al-Muddatstsir:1-7).
Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu 'anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya, akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat.
Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan  karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah  :
"Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ". (Ali Imran:186).

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah  sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.
Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah  , Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.
Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalam hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya.
Ketika jibril AS datang kepada Nabi SAW, dia berkata : “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan. Apabila ia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga daru mutiara yang tiada keribitan didalamnya dan tidak ada kepayahan”. (HR. Bukhari dalam Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata : “Keshahihannya telah disepakati”)

Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Referensi:
*      alsofwah.or.id
*      Majalah Ummi Online : http://localhost/auracms15
*      Versi Online : http://localhost/auracms15/?pilih=lihat&id=16
*      "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW" karangan Muhammad Ibrahim Saliim. Diketik oleh: Hanies Ambarsari.

ABu DZAR AL GHIFARI



Silsilah Keturunannya
Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub bin Junadah, termasuk dari a'yan sahabat dan ahli zuhud di kalangan mereka. Islam sejak lama di Makkah kemudian kembali kepada kaumnya, tinggal bersama Nabi di Madinah, sakanur rabdzah dan meninggal pada tahun ke-32 H.[1]

Awal mula keislamannya
SEORANG LELAKI MUDA bernama Jundub bin Junadah, datang ke tempat pemujaan. Suku pemuda itu, Ghifar, memang penyembah berhala bernama Munat. Jundub orang miskin, dan datang ke pemujaan itu untuk mempersembahkan susu. Jundub menanti. Ternyata, berhala Munat tidak meminum susu itu. Toh demikian, Jundub tetap ada di hadapannya.

Beberapa waktu kemudian, muncul seekor rubah yang langsung meminum susu persembahan Jundub tersebut. Sebelum pergi rubah itu mengangkat satu kakinya dan ... mengencingi berhala itu.
Munat tidak bereaksi apa-apa. Akhirnya Jundub tertawa geli. “Kenapa aku menyembah batu bodoh seperti ini?” katanya pada diri sendiri. “Dikencingi pun, dia tidak bereaksi apa-apa! Benar-benar bodoh!”
“Kalau begitu” fikir pemuda itu. “Berhala yang lain pun, seperti Hubal, Latta dan lainnya, juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau dikencingi seperti Munat”
Dalam pencariannya, Jundub akhirnya sampai pada kesimpulan: “pasti ADA SESUATU yang lebih dari itu semua. Yang menguasai semua ini!”
Pada saat-saat itulah, Jundub mendengar : katanya ada ‘nabi baru’ di Mekkah. Hal itu katanya juga sudah diramalkan dalam kitab-kitab terdahulu. Dan dikatakan para ahli agama pula.
Penasaran, Jundub mengirim saudaranya, Anis, untuk mengecek kebenaran berita itu. Anis pun melakukan perjalanan sangat jauh, ratusan kilometer, menuju Mekkah. Setelah itu, dia pulang memberitahukan apa yang dilihat.
Jundub lebih penasaran lagi. Karena itu, dia merasa ‘harus membuktikan sendiri’. Gambaran Anis tidak lengkap, karena Anis takut mendekati nabi baru itu !
Sampai di Mekah, Jundub tidak tahu harus pergi ke mana. Untung ada anak muda yang menyapanya dengan ramah. Bahkan kemudian mengajaknya ke rumah. Omong-omong, anak muda itu akhirnya tahu keinginan Jundub. Pemuda itu bersedia mengantarkannya ke Nabi baru yang disebutnya itu.
Anak muda itu bernama Ali.[2]

Perjalanan hidupnya
ABU Dzar al-Ghifari adalah seorang yang berani berterus-terang memberikan pendapat, meskipun kepada seorang khalifah. Menurut riwayat, suatu peristiwa berlaku selepas Saidina Usman bin Affan dilantik menjadi khalifah.
Pada masa itu, Usman memberikan 300,000 dirham kepada seorang yang bernama Marwan, sementara 100,000 dirham lagi kepada Zaid bin Sabit. Peristiwa itu dilihat oleh Abu Dzar.
Disebabkan tidak bersetuju dengan pemberian itu, Abu Dzar menegur khalifah dengan kata-kata: "Gembirakanlah kaum kafir itu dengan neraka." Di samping itu, Abu Dzar juga menyebut ayat al-Quran daripada surah at-Taubah yang antara lain bermaksud: "Dan mereka yang menghimpun emas dan perak dan tidak mengeluarkannya bagi kepentingan menegakkan agama Allah, maka gembirakanlah mereka dengan azab yang amat pedih pada hari kemudian."
Kata-kata itu memang meninggalkan kesan kepada mereka yang mendengarnya, termasuk Marwan sendiri yang kemudian bertindak mengadukan hal itu kepada khalifah.
Apabila Usman mendapat tahu perkara itu, beliau menghantar seorang utusan yang juga pembantunya untuk menemui Abu Dzar bagimenasihatkannya supaya tidak mengkritik khalifah dengan begitu keras.
Apa yang disampaikan oleh utusan daripada khalifah itu sebaliknya tidak mendatangkan apa-apa kesan kepada Abu Dzar. Beliau tidak menghiraukannya sama sekali. Sebaliknya, lebih menguatkan keazaman Abu Dzar untuk menyuarakan pendapatnya berasaskan kepada kebenaran itu.
Selepas mendengar teguran khalifah yang disampaikan melalui utusan itu, Abu Dzar bertanya kembali: "Apakah Usman mahu melarang aku daripada membaca kitab Allah?"
Pertanyaan itu mengelukan lidah sesiapa saja untuk menjawabnya kerana kata-kata itu tentulah berdasarkan kepada hakikat kebenaran kerana ia bersandar kepada kitab Allah.
Abu Dzar seterusnya melanjutkan kata-katanya: "Sesungguhnya aku lebih memilih mendapatkan keredaan Allah, sekalipun dimarahi Usman, daripada mendapat keredaan Usman tetapi dimurkai Allah."
Mendengar kata-kata itu, utusan berkenaan tidak dapat mempertikaikan apa pun mengenai Abu Dzar. Sikapnya yang jujur, ikhlas dan berani berterus-terang menyuarakan isi hatinya demi kebenaran itu akan ‘mematikan’ apa juga hujah yang di luar landasan agama.
Dengan sikap dan semangat waja itulah, Abu Dzar terus membuat teguran membina kepada Khalifah Usman, termasuk dalam urusan pemerintahannya.
Berikutan kritikannya itu, pada suatu ketika, Usman memerintahkan agar Abu  Dzar meninggalkan Madinah dan ke Syam.
Perintah itu tidak diingkarinya, sebaliknya Abu Dzar mematuhinya lalu berpindah ke Syam.
Bagaimanapun, dengan perpindahan itu tidak bermakna Abu Dzar turut menghentikan sikap jati dirinya yang rela menegur sesuatu yang dilihatnya sebagai tidak sesuai atau tidak sejajar dengan ajaran Islam.
Beliau berpegang kepada kebenaran Allah. Justeru, apa saja yang tergelincir daripada dasar itu, beliau tetap menegurnya sekalipun kini tidak tinggal lagi di Madinah.
Ketika di Syam, Abu Dzar terus menegur pembesar yang dilihatnya tidak begitu sesuai dengan ajaran Islam. Di Syam, dia pernah menegur Gabenor Syam, Muawiyah.[3]
Keutamannya
Pada hakikatnya, apa yang disuarakan oleh Abu Dzar dalam pelbagai kritikannya terhadap pembesar negara, termasuk Khalifah Usman dan Muawiyah adalah suara yang mewakili suara majoriti umat Islam.
Sekiranya ada tindakan khalifah yang tidak wajar seperti memberikan banyak kelonggaran kepada tokoh penting sahabat meninggalkan Madinah untuk ke daerah yang jauh dengan memiliki banyak kekayaan, Abu Dzar tetap menegurnya.
Tegurannya dibuat atas dasar membina. Sebaliknya jika pembesar negara berasakan mereka tidak sanggup menerima kritikan setajam itu terpulang kepada mereka.
Abu Dzar sedia menerima apa saja hukuman, termasuk berpindah ke tempat lain tetapi hasratnya untuk menyuarakan pendapat yang benar tetap akan dilaksanakan walaupun tidak menjadi seorang tokoh popular.
Sifat berterus-terang dan berani menyuarakan pendapat demi kebenaran Islam ini adalah suatu ciri yang menjadikannya seorang perawi hadis yang bertanggungjawab.[4]
Kesempurnaan jiwanya
a. Kezuhudan dan ketaqwaannya
Pada suatu hari seorang laki-laki datang ke rumah Abu Dzar. Oang  itu melayangkan pandangannya ke setiap pojok rumah Abu Dzar. Dia tidak menemukan apa-apa dalam rumah itu. Karena itu orang tersebut bertanya kepada Abu Dzar :
فقال : يا ابا ذر, أين متاعكم ؟!
"Hai Abu Dzar! dimana barang-barangmu ?"
فقال : لنا بيت هناك (يعنى الأخرة) نرسل اليه صالح متاعنا.
Jawab Abu Dzar, "Kami mempunyai rumah yang lain (di akhirat), barang-barang kami yang bagus telah kami kirimkan ke sana."
Orang tersebut rupanya mengetahui maksud Abu Dzar. Lalu dia berkata pula, "Tetapi nukankah kamu memerlukan juga barang-barang itu di rumah ini (di dunia) ?"
ولكن صاحب المنزل لا يتركنا فيه.
"Tetapi yang punya rumah (Allah) tidak membolehkan kami tinggal di sini (di dunia) selama-lamanya." Jawab Abu Dzar.
Pada suatu ketika Wali Kota Syam mengirimkannya tigaratus dinar. Katanya, "Manfaatkanlah uang ini untuk memenuhi kebutuhan anda !"
Abu Dzar mengembalikan uang itu seraya berkata,
أما وجد أمير الشام عبد الله أهون عليه منَي ؟
"Apakah Wali Kota tidak melihat lagi seorang hamba Allah yang lebih memerlukan bantuan ?"[5]

b. Ibadahnya
c. Takut kepada Allah
d. Ilmunya
e. Kemuliaan
f. Kesabarannya
g. Keberaniannya
Segera setelah Jundub bertemu Muhammad (SAW), dia langsung ‘jatuh cinta’. Lalu bersahadat masuk Islam. “Rahasiakanlah dulu keislamanmu, dan kembalilah ke kampung halamanmu!” perintah Nabi.
“Demi Allah” jawab Jundub yang kemudian lebih dikenal dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, “saya akan menyebarkan Islam di antara orang-orang Quraish!”
Abu Dzar membuktikan ucapannya. Keesokan harinya, dia pergi ke Ka’bah (yang waktu itu masih penuh berhala) dan berteriak: “aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad rasul Allah!”
Orang-orang Quraish kaget dan sangat marah. Lalu mendekati. Karena Abu Dzar terus omong, mereka kemudian memukulinya sampai pingsan.
Keesokan harinya, Abu Dzar berbuat yang sama. Dan orang-orang Quraish lebih ganas memukulinya, sampai Abu Dzar pingsan pula.
ABU DZAR tidak pernah berubah dari ‘sikap dasarnya’ itu. Kebenaran tidak untuk disembunyikan, tapi dibeberkan secara terbuka. Akibat dari sikap itu tidak ada artinya, asal hati tetap bersikukuh hanya Allah satu-satunya yang perlu ditakuti.
Abu Dzar kemudian mampu meng-Islam-kan sukunya, Ghifar. Bahkan juga suku lainnya, Aslam. Kedua suku itu, semuanya, tua-muda lelaki-perempuan, kemudian berbondong-bondong menemui langsung Nabi Muhammad (SAW) ketika telah hijrah ke Madinah.
Nabi Muhammad tersenyum kagum. “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar!” kata Nabi pula.
Suatu hari, Nabi bertanya: “Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai ada pembesar yang mengambil barang upeti (kekayaan) untuk diri sendiri ?”. Jawab Abu Dzar tegas : “Demi yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!”
“Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu ? Yaitu bersabar sampai kamu menemuiku!”
‘Menemuiku’ artinya: sampai Abu Dzar meninggal. Janji Nabi itu dipegang teguh oleh Abu Dzar: para pembesar di mana pun, asal dijumpai hidup mewah dan berfoya-foya, maka Abu Dzar akan ‘menembaknya’ dengan teriakan kerasnya: “Beritakanlah kepada para penumpuk harta/yang menumpuk emas dan perak/ mereka akan diseterika dengan seterika api neraka/ menyeterika kening dan punggung mereka di hari kiamat!”
Sebagai konsekuensi tindakannya, Abu Dzar kemudian dikenal sebagai “mahaguru hidup sederhana”. Tentu saja, sikapnya itu tidak disenangi para pembesar yang sangat risih pada teriakan teriakan Abu Dzar itu.
“Pemimpin dan pembesar, haruslah yang pertama kali menderita kelaparan sebelum anak buah atau rakyatnya. Sebaliknya, paling belakang menikmati kekenyangan setelah mereka!”[6]

Nasehatnya
Beliau berkata :
تمام التقوى ترك بعض الحلال خوفا أن يكون حراما
"Kesempurnaan taqwa adalah dengan meninggalkan sebagian yang halal takut akan menjadi haram"[7]
Wafatnya
Ketika Rasulullah telah pergi berlalu dengan para sahabat-sahabatnya dan ternyata ada orang-orang yang tidak ikut atau tertinggal. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, Fulan telah tertinggal". Maka Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya".
Salah seorang sahabat ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, Abu Dzar telah tertinggal karena untanya lambat." Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya".
Dan Abu Dzar pun jadi tambah terlambat di atas untanya, maka ketika untanya tidak mampu berjalan lagi, maka Abu Dzar pun mengambil barang-barang bawaannya dan memanggulnya dan berjalan menyurusi jejak kaki Rasulullah. Dan Rasulullah pun turun dari kendaraanya dan kemudian salah seorang pengintai dari sahabat memandang ke jauh ke belakang, tiba-tiba ia berkata, "Wahai Rasulullah, Itu ada seorang laki-laki menuju kesini dengan berjalan kaki sendirian".
Maka Rasulullah bersabda, "Semoga benar dia Abu Dzar". Maka, ketika sekelompok sahabat memperhatikan dengan seksama, maka tiba-tiba mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar". Maka Rasulullah pun bersabda, "Semoga Allah mengasihi Abu Dzar, ia berjalan sendirian, dan meninggal sendirian, dan dibangkitkan kelak pun sendirian".
Dan sabda Rasulullah ini benar-benar terbukti, sebab Utsman bin Affan ketika itu ada perbedaan pendapat dengan Abu Dzar, dan Abu Dzar pun menjauh dan meninggalkan Utsman bin Affan. Dan tiada yang menemani kepergiannya kecuali isteri dan anaknya, maka beliau pun memberi wasiat kepada isteri dan anaknya itu agar keduanya yang memandikan dan mengkafaninya kalau ia meninggal. Kemudian, letakkanlah aku dipinggir jalan, dan katakanlah kepada orang pertama yang melewatiku bahwa ini adalah Abu Dzar, sahabat Rasulullah, tolonglah kami untuk menguburkannya."
Maka, tatkala Abu Dzar meninggal, keduanya pun melakukan apa yang diwasiatkannya, lalu meletakkan beliau di pinggir jalan.
Maka Abdulah bin Mas'ud dan sekelompok rombongan dari penduduk Iraq pun lewat untuk melakukan umrah. Tiada yang mereka dapati di perjalanan kecuali sebuah jenazah di pinggir jalan yang disampingnya ada seekor unta dan seorang anak yang sedang berdiri danberkata, "Ini adalah Abu Dzar sahabat Rasulullah, maka tolonglah kami untuk menguburkannya".
Maka, Abdullah bin Mas'ud pun menangis dan berkata, "Sungguh telah benar Rasulullah, beliau bersabda bahwa Abu Dzar, dia berjalan pergi sendirian, dan meninggalpun dalam kesendirian, dan akan dibangkitkan dalam kesendirian pula".
Kemudian, ibn Mas'ud pun turun dari kendaraannya, begitu juga para sahabatnya pun menguburkannya. Lalu Ibn Mas'ud pun menceritakan kepada mereka sebuah hadits, sebuah kisah yang di dalamnya Rasulullah bersabda tentang Abu Dzar ketika dalam suatu perjalanan menuju Tabuk. Nama asli Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah, meninggal pada tahun 32H.
Sumber: Min Mu'jizatin Nabiy shallalahu 'alaihi wa sallam Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad Al-Salman[8]


[1] Bulughul maram min adillatil ahkam, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany, hlm.45
[2] http://www.minggupagi.com
[3] www.ukhuwah.com
[4] www.ukhuwah.com
[5] Shuar min Hayatish Shahabah, DR. Adurraman Ra'fat Basya, hlm.114.
[6] Lihat http://www.minggupagi.com
[7] Al Wafi fi Syarhil Arba'in an Nawawi, DR. Musthafa al Bugha & Muhyiddin Mistawi, hlm. 86.
[8] Di nukil dari www.al-islam.com

Usamah Bin Zaid



Nasabnya

Usama bin zaid bin Haritsah Syarakhil bin Abdul Uzza ibn imri'il Qois, ibunya bernama Ummu Aiman seorang wanita Habsyi, bekas sahaya ibunda Rasululah Aminah binti Wahab.Dialah yang mengasuh Rosulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup dan yang merawat setelah ibunya wafat.Adapun bapaknya adalah kesayangan Rasulullah. Beliau pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia Islam.Dia menjadi sahabat beliau tempat mempercayakan segala rahasia. Dan dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yang sangat beliau kasihi dalam Islam.


Kelahiranya.

Ia lahir pada tahun ketujuh sebelum hijrah.Ketika itu Rasulullah sedang mengalami kesulitan karena tindakan kaum Quraisy yang menyakiti beliau dan para sahabat.kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah menyebabkan beliau sentiasa bersabar.Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang mengembirakan.Seorang pembara berita mengabarkan kepada beliau,"Ummu Aiman melahirkan anak laki-laki"wajah rasulullah berseri-seri  karena gembira menyambut berita tersebut.Siapakah gerangan bayi yang berbahagia itu?sehinga kelahiranya dapat mengobati hati rasulullah yang sedang duka,berubah menjadi gembira .Itulah dia Usamah bin Zaid.Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka cita dengan kelahiran bayi tersebut.Karena mereka tahu kedudukan kedua orang tuanya disisi Rasulullah.kaum muslimin pun turut gembira dengan kelahiran Usamah,melebihi kegembiraan mereka atas kelahiran bayi-bayi lainya.

Fisiknya

Mengenai rupa dan bentuk lahirnya,tidak disiapkan untuk keahlian,walau pekerjaan apapun.Sebagaimana dikisahkan para sejarawan dan ahli-ahli riwayat,kulitnya hitam gelam , hidungnya pesek.,sangat mirip dengan ibumya wanita Habsyi.
Julukanya

Ia mendapat julukan Abu Muhammad,Abu Haritsah dan Abu Yazid.Ia digelari ,"Kesayangan ,Putera dari kesayangan"Karena sayangnya Rasulullah kepada Usamah dan bapaknya.Bapaknya adalah pelayan Rasulullah yang lebih mengutamakanya dari ibu bapak dan kaum keluarganya.,dan oleh rasulullah dihadapkan kepada sahabat-sahabatnya ,seraya berkata:"Saya persaksikan kepada kamu sekalian bahwa Ziid ini adalah putraku ,yang akan menjadi ahli warisku dan aku akan menjadi ahli warisnya ………maka terkenallah namanya di kalangan muslimin sebagai Zaid bin Muhammad,sampai dihapusnya kebiasaan mengambil anak angkat oleh Al-Quranul Karim
Kedudukanya

Usamah bin Zaid sepanjang  hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin.Karena ia senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah dengan sempurna,serta memuliakan pribadi rasul.Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah,pada suatu kali ia tersandung di bendul pintu,hinga keningnya luka dan berdarah.Rasulullah menyuruh  Aisyah membersihkan darah dari luka Usamah,tapi ia tak mampu melakukanya.Karena itu beliau berdiri mendapatkan Usamah lalu beliau isap darah yang keluar dari lukanya, kemudian beliau ludahkan.
Tatkala Umar bin Kahthab diprotes oleh putranya Abdullah bin Umar,karena melebihkan jatah dari jatah Abdullah sebagai putra khalifah.Abdullah bin Umar berkata :"Wahai bapak! Bapak memberikan jatah tuk Usamah empat ribu, sedang kepada saya hanya tiga ribu.padahal jasa bapaknya tidak akan lebih banyak dari jasa bapak.Begitu pula pribadi Usamah,tidak ada keistimewaanya dari pada saya."Jawab Umar :"Wah….jauh sekali!bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapakmu.Dan  Usamah lebih disayangi dari pada kamu".mendengar keterangan ayahnya Abdullah bin Umar rela jatah Usamah di lebihkan dari pada dia sendiri. Jika umar bertemu dengan Usamah maka ia menyapa dengan ucapan " marhaban bi amiiri " ! ( selamat wahai komandanku ) jika ada orang yang heran sapaan umar tersebut maka ia menjelaskan rasulullah pernah mengangkat usamah menjadi komandan saya ."



Perjalanan Hidupnya.

Sejak ia meningkat remaja,kelihatan pada dirinya sifat-sifat dan budi pekerti yang mulia..Dia cerdik ,pintar,pemberani,bijaksana,dan pandai meletakan sesuaatu pada tempatnya yang menyebabkan dirinya dekat ke hati Rasulullah dan besar dalam pandangan Rasul.Ia adalah putra dari sepasang suami-istri islam yang mulia dan termasuk golongan "As-Sabiqunal Awwalun "dan paling dekat serta paling cinta kepada Rasulullah.Ia juga termasuk diantara putra-putra islam yang murni,dilahirkan dalam keislaman dan disusukan dari sumber yang bersih tanpa dikotori oleh debu jahiliyah  yang gelap gulita.
Waktu terjadi perang Uhud ,Usamah bin Zaid datang kehadapan Rasulullah beserta serombongan anak-anak sebayanya.mereka ingin turut jihad fi sabilillah .sebagian mereka diterima Rasulullahdan sebagian lagi ditolah oleh beliau,karena usia mereka yang masih sangat  muda.Usamah sendiri ditolak belaiu,karena itu ia pulang sambil menangis.Ia sedih lantaran tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.dalam perang Khandaq ,Usamah bin Zaid datang pula bersama-sama kawan-kawannya.Ia berdiri tegap di hadapan Rasulullah agar kelihatan lebih,agar diperkenankan turut berperang.Rasulullahkasihan melihat Usamah yang keras hat iingin turut berperang .karena itu beliau mengizinkanya.ketika itu ia baru berumur 15 tahun.ketika perang Hunain berkecamuk,pasukan muslimin terdesak hinga barisan mereka kacau balaut.tapi ia tetap bertahan bersama para sahabat,'Abbas paman Rasulullah,Sufyan bin Harits anak paman Usamah dan enam orang sahabat lainya.Denga sisa pasukan inilah Rasulullah berhasil berhasil mengembalikan kekalahan menjadi kemenangan bagi kaum muslimin dan menyelamatkan kaum muslimin yang lari dari kejaran musuh.
Menginjak umurnya kira-kira 18 tahun, ia turut perang Mu'tah di bawah komando ayahnya,Zaid bin haritsah.Dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri ayahnya gugur sebagai syuhada`.Tapi ia tak takut dan mundur.bahkan ia terus bertempur dengan gigih di bawag komando Ja`far bin Abi Thalib,hinga ja`far syahid pula di hadapanya.kemudian ia menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah,sampai pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya.yamg syahid lebih dulu.Kemudian komando dipegang Khalid bin Walid.dan bertempur bersamnanya dengan sisa pasukan yang ada,kaum muslimin akhirnya melepaskan cengkeraman tentara romawi.
Sesusai peperangan ,ia kembali ke madinah dengan menyeraahkan jasad ayahanya  kepadfa Allah .Jasad ayahnya ia tinggalkan di bumi syiria dengan mengenang segala kebaikannya.Walaupun usianya masih muda belia,tapi ia telah menjadi seorang mukmin tangguh dan muslim yang kuat,yang siap sedia memikul tanggung jawab keimanan dan Agama nya yang membaja dengan kecintaan yan mendalam dan kemauan yang membaja,ia juga seorang yang rendah hati ,serta mati-matian tak kenal batas bnerjuang di jalan Allah dan Rasul-Nya.Disamping itu, Ia merupakan kelinci percobaan perbedaan warna kulit yang sengaja hendak dihapus dan dilenyapkan oleh Islam.Maka si hitam pesek ini telah merebut kedudukan tinggi di hati Nabi dan barisan kaum muslimin karena ketakwaanya kepada Allah.
Pada tahun kesebelas hijriyah Rasulullah memerintahkan supaya menyiapkan bala tentara untuk menyerang Rum.Dalam pasukan itu terdapat Abu Bakar ,Umar Saad bin Abi Waqqash,Abu Ubaidah bin Jarrah dan sahabat lainya.Dalam usianya yang belum genap 20 tahun Rasulullah mengangkat ia menjadi panglima pasukan yang akan diberangkatkan. Di kalangan kaum musliumin tersinar desas-desus keberatan mereka terhadap putusan ini. Mereka mengangap tidak tepat mengangkat seorang pemuda yang masih hijau seperti Usamah bin Zaid tuk memimpin suatu pasukan tentara yang di dalamnya ada tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar.Bisik-bisik ini sampai ke telinga Rasulullah.lalu beliau naik mimbar lalu menyampaikan puji syukur kepada Allah dan bersabda : "Sebagian orang mengecam pengangkatan Usamah Bin Zaid sebagai panglima ….!sebelum ini mereka juga telah mengecam pengangkatan ayahnya….!Walau ayahnya itu layak menjadi panglima !Dan Usamah pun layak untuk jabatan itu!ketika bala tentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat,Rasulullah sakit dan semakin hari sakit beliau bertambah keras.Karena itu keberangkatan pasukan ditanguhkan menungu keadaan Rasulullah membaik.tidak berapa lama kemudian,Rasulullah pulang ke rahmatullah.Tetapi ia telah meningalkan pesan kepada sahabatnya untuk berperang di bawah komando Usamah bin Zaid.Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantikmenjadi khalifah.Ia memerintahkan supaya meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid.Wsiat ini di junjung tinggi  oleh Abu Bakar.dan walaupun suasana sepeninggal Rasulullah itu  telah berubah,ia tetap bersikeras melaksanakan wasiat dan perintahRasulullah.Maka bergeraklah pasukan usamah ke romawi,yakni setelah Khalifah meminta izin kepadsa Usamah agar Umar di bolehkan tinggal di madinah tuk mendampinginya.
Maka tatkala kaisar romawi Heraklius mendengar berita wafatnya rasululloah,pada saat bersamaan mendapat berita kedatanggan pasukan Islam menyerang perbatasan Syiria di bawah pimpinan Usamah bin Zaid.ia pun merasa heran terhadap kekuatan muslimin karena wafatnya Rasulullah tidak menpengaruhi sedikitpun rencana dan kemampuan mereka!
Demikianlah Romawi merasa kecut,dan mereka tidak berani menyerang tanah air islam di jazirah arab.Usamah berhasil kembali dari medan pertempuran  dengan kemenangan gilang gemilang.mereka membawa harta rampasan yang banyak,melebihi perkiraan yang di duga orang.Hingga orang Islam saling  berkata :"Belum pernah terjadi suatu pasukan tempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang di bawa pasukan Usamah bin Zaid"    
Asakir telah memberitakan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Usamah bin Zaid ra. bahwa Rasulullah Ibnu SAW memerintahkannya untuk menyerang suku kaum Ubna pada waktu pagi dan membakar perkampungannya. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Usamah: "Berangkatlah dengan nama Allah!". Kemudian Rasulullah SAW keluar membawa bendera perangnya dan diserahkannya ke tangan Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami ra. untuk dibawa ke rumah Usamah ra. Beliau juga memerintahkan Usamah untuk membuat markasnya di Jaraf di luar Madinah sementara kaum Mukmin membuat persiapan untuk keluar berjihad. Maka Usamah ra. mendirikan kemahnya di suatu tempat berdekatan dengan Siqayat Sulaiman sekarang ini. Maka mulailah orang berdatangan dan berkumpul di tempat itu. Siapa yang sudah selesai kerjanya segera datang ke perkemahan itu, dan siapa yang masih ada urusan diselesaikan urusannya terlebih dahulu.
Tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang unggul, melainkan dia ikut dalam pasukan jihad ini, termasuk Umar bin Al-Khatthab, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abu Waqqash, Abul A'war Said bin Zaid bin Amru bin Nufail radiallahuanhum dan banyak lagi para pemuka Muhajirin yang ikut serta. Dari kaum Anshar pun di antaranya Qatadah bin An-Nu'man dan Salamah bin Aslam bin Huraisy ra.huma dan lain-lain. Ada di antara kaum Muhajirin yang kurang setuju dengan pimpinan Usamah ra. itu, karena usianya masih terlalu muda (18 tahun). Di antara orang yang banyak mengkritiknya ialah Aiyasy bin Abu Rabi'ah ra. dia berkata: "Bagaimana Rasuluilah mengangkat anak muda yang belum berpengalaman ini, padahal banyak lagi pemuka-pemuka kaum Muhajirin yang pernah memimpin perang". karena itulah banyak desas-desus yang memperkecilkan kepemimpinan Usamah ra. Umar bin Al-Khatthab ra. menolak pendapat tersebut serta menjawab keraguan orang ramai. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW serta memberitahu tentang apa yang dikatakan orang ramai tentang Usamah. Beliau SAW sangat marah, lalu memakai sorbannya dan keluar ke masjid. Bila orang ramai sudah berkumpul di situ, beliau naik mimbar, memuji-muji Allah dan mensyukurinya, lalu berkata: "Amma ba'du! Wahai sekalian manusia! Ada pembicaraan yang sampai kepadaku mengenai pengangkatan Usamah? Demi Allah, jika kamu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap Usamah, maka sebenarnya kamu juga dahulu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap ayahnya, yakni Zaid. Demi Allah, si Zaid itu memang layak menjadi panglima perang dan puteranya si Usamah juga layak menjadi panglima perang setelahnya. Kalau ayahnya si Zaid itu sungguh sangat aku kasihi, maka puteranya juga si Usamah sangat aku kasihi. Dan kedua orang ini adalah orang yang baik, maka hendaklah kamu memandang baik terhadap keduanya, karena mereka juga adalah di antara sebaik-baik manusia di antara kamu!".
Sesudah itu, beliau turun dari atas mimbar dan masuk ke dalam rumahnya, pada hari Sabtu, 10 Rabi'ul-awal. Kemudian berdatanganlah kaum Muhajirin yang hendak berangkat bersama-sama pasukan Usamah itu kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan selamat tinggal, di antaranya Umar bin Al-khatthab ra. dan Rasulullah SAW terus mengatakan kepada mereka: "Biarkan segera Usamah berangkat! Seketika itu pula Ummi Aiman ra. (yaitu ibu Usamah) mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata: "Wahai Rasulullah! Bukankah lebih baik, jika engkau biarkan Usamah menunggu sebentar di perkemahannya, sehingga engkau merasa sehat, karena, jika Usamah ra. berangkat juga dalam keadaan seperti ini, tentulah dia akan merasa bimbang dalam perjalanannya!". Tetapi Rasulullah SAW tetap mengatakan: "Biarkan segera usama berangkat''?Orang ramai sudah berkumpul di perkemahan pasukan Usamah itu, dan mereka menginap di situ pada malam minggu itu. Usamah datang lagi kepada Rasulullah SAW pada hari Ahad dan Beliau SAW terlalu berat sakitnya, sehingga mereka memberikannya obat. Usamah menemui Beliau sedang kedua matanya mengalirkan air mata. Ketika itu Al-Abbas berada di situ, dan di sekeliling Beliau ada beberapa orang kaum wanita dari kaum keluarganya. Usamah menundukkan kepalanya dan mencium Rasulullah SAW sedang Beliau tidak berkata apa-apa, selain mengangkat kedua belah tangannya ke arah langit serta mengusapkannya kepada Usamah. Berkata Usamah: "Aku tahu bahwa Rasulullah SAW mendoakan keberhasilanku. Aku kemudian kembah ke markas pasukanku". "Pada besok harinya, yaitu hari Senin, aku menggerakkan pasukanku sehingga kesemuanya telah siap untuk berangkat. Aku mendapat berita bahwa Rasulullah SAW telah segar sedikit, maka aku pun datang sekali lagi kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal, kata Usamah". Beliau berkata kepadaku: "Usamah! Berangkatlah segera dengan diliputi keberkatan dari Allah!". Aku lihat isteri-isterinya cerah wajah mereka karena gembira melihat beliau sedikit segar pada hari itu. Kemudian datang pula Abu Bakar ra. dengan wajah yang gembira, seraya berkata:"Wahai Rasulullah! Engkau terlihat lebih segar hari ini, Alhamduillah. Hari ini hari pelangsungan pernikahan puteri Kharijah, izinkanlah aku pergi". Maka Rasulullah SAW mengizinkannya pergi ke Sunh (sebuah perkampungan di luar kota Madinah), Usamah ra. pun kembali kepada pasukannya yang sedang menunggu penntahnya untuk bergerak, dan dia telah memerintahkan siapa yang masih belum berkumpul di markasnya supaya segera datang karena sudah tiba waktunya untuk bergerak.
Belum jauh pasukan itu meninggalkan Jaraf, tempat markas perkemahannya, datanglah utusan dari Ummi Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah SAW telah kembali ke rahmatullah. Usamah segera memberhentikan pergerakan pasukan itu, dan segera menuju ke kota Madinah bersama-sama dengan Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke rumah Rasulullah SAW dan mereka mendapati beliau telah meninggal dunia. Beliau wafat ketika matahari tenggelam pada hari Senin malam 12 Rabi'ul-awal. Kaum Muslimin yang bermarkas di Jaraf tidak jadi berangkat ke medan perang, lalu kembali ke Madinah. Buraidah bin Al-Hashib yang membawa bendera Usamah, lalu menancapkannya di pintu rumah Rasulullah SAW. Sesudah Abu Bakar ra. diangkat menjadi Khalifah Rasulullah SAW dia telah menyuruh Buraidah ra. mengambil bendera perang itu dan menyerahkan kepada Usamah, dan supaya tidak dilipat sehingga Usamah memimpin pasukannya berangkat ke medan perang Syam. Berkata pula Buraidah: "Aku pun membawa bendera itu ke rumah Usamah , dan pasukan itu pun bergerak menuju ke Syam". Setelah selesai tugas kami di Syam, kami kembali ke Madinah dan bendera itu terus saya tancapkan di rumah Usamah sehingga Usamah meninggal dunia.
Apabila berita wafatnya Rasulullah SAW sampai kepada kaum Arab, sebagian mereka telah murtad keluar dari agama Islam. Abu Bakar ra. memanggil Usamah lalu menyuruhnya supaya menyiapkan diri untuk berangkat memerangi bangsa Romawi sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelum wafatnya dahulu. pasukan Islam mulai berkumpul lagi di Jaraf di perkemahan mereka dulu. Buraidah ra. yang diamanahkan untuk memegang bendera perang telah berada di markasnya di sana. Tetapi para pemuka kaum Muhajirin yang terutama, seperti Umar, Usman, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abu Waqqash, Said bin Zaid dan lainnya mereka telah datang kepada Khalifah Abu Bakar ra. seraya berkata: "wahai Khalifah Rasulullah! Sesungguhnya kaum Arab sudah mula memberontak, dan adalah tidak wajar engkau akan membiarkan pasukan Islam ini meninggalkan kami pada masa ini. Bagaimana kalau engkau pecahkan pasukan ini menjadi dua. Yang satu untuk engkau kirimkan kepada kaum Arab yang murtad itu untuk mengembalikan mereka kepada Islam, dan yang lain engkau pertahankan di Madinah untuk menjaganya, siapa tahu kalau-kalau ada yang datang untuk menyerang kita dari mereka itu. Kalau tidak, maka yang tinggal di sini hanya anak-anak kecil dan wanita saja, bagaimana mereka dapat mempertahankannya? Seandainya engkau menangguhkan memerangi kaum Romawi itu, sehingga keadaan kita dalam negeri aman, dan kaum Arab yang murtad itu kembali ke pangkuan kita, ataupun kita kalahkan mereka terlebih dahulu, kemudian kita mengirim pasukan kita untuk memerangi bangsa Romawi itu, bukankah itu lebih baik?! Kita pun tidak merasa bimbang dari bangsa Romawi itu untuk datang menyerang kita pada masa ini!. Abu Bakar ra. hanya mendengar bermacam-macam pandangan dari para pemuka Muhajirin itu.
Setelah selesai mereka berkata, maka Abu Bakar ra. bertanya lagi: Adakah yang mau memberikan pendapatnya lagi, atau kamu semua telah memberikan pendapat kamu?! jawab mereka: "Kami sudah berikan apa yang harus kami sampaikan!". "Baiklah, kalau begitu. Saya telah dengar semua apa yang hendak kamu katakan itu", ujar Abu Bakar. Demi jiwaku yang berada di tangannya! Kalau aku tahu bahwa aku akan dimakan binatang buas sekalipun, niscaya aku tetap akan mengutus pasukan ini ke tujuannya, dan aku yakin bahwa dia akan kembali dengan selamat. Betapa tidak, sedang Rasulullah SAW yang telah diberikan wahyu dari langit telah berkata: "Berangkatkan segera pasukan Usamah". Tetapi ada suatu hal yang akan aku beritahukan kepada Usamah sebagai panglima pasukan itu. Aku minta darinya supaya memembiarkan Umar tetap tinggal di Madinah untuk membantuku di sini, karena aku sangat perlu kepada bantuannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah Usamah setuju atau tidak. Demi Allah, jika dia enggan membenarkan sekalipun, aku tidak akan memaksanya! Kini tahulah para pemuka Muhajirin itu, bahwa khalifah mereka yang baru itu telah berazam sepenuhnya untuk mengirim pasukan Islam, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya.
Abu Bakar ra. lalu pergi ke rumah Usamah ra., dan memintanya agar membiarkan Umar ra. tinggal di Madinah untuk membantunya. Usamah ra. setuju. Untuk meyakinkan dirinya, maka Abu Bakar ra. berkata lagi: "Benar engkau mengizinkannya dengan hati yang rela?" Jawab Usamah: "ya!". Khalifah Abu Bakar ra. lalu mengeluarkan perintah supaya tidak ada seorang pun mengelakkan dirinya dari menyertai pasukan Usamah itu sesuai dengan perintah Rasulullah SAW sebelum wafatnya. Dia berkata lagi: "Siapa saja yang melewatkan dirinya untuk keluar, niscaya aku akan menyuruhnya mengejar pasukan itu dengan berjalan kaki".
Kemudian Abu Bakar ra. memanggil orang-orang yang pernah mengecil-ngecilkan pengangkatan Usamah sebagai panglima perang, dan memarahi mereka serta menyuruh mereka ikut keluar bersama-sama pasukan itu, sehingga tiada seoran pun yang berani memisahkan dirinya. Apabila pasukan itu sudah mulai bergerak, Abu Bakar ra. datang untuk mengucapkan selamat berangkat kepada mereka. Usamah mendahului para sahabatnya dari Jaraf, dan mereka kurang lebih 3,000 orang, di antaranya ada 1,000 orang yang menunggang kuda. Abu Bakar ra. berjalan kaki di sisi Usamah ra. untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya: "Aku serahkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan kesudahan amalmu! Sesungguhnya Rasulullah SAW sudah berpesan kepadamu, maka laksanakanlah segala pesannya itu, dan aku tidak ingin menambah apa-apa pun, tidak akan menyuruhmu apa pun atau melarangmu dari apa pun. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rasuluflah SAW saja".
Usamah ra. dan pasukannya maju dengan cepat. Dia telah melalui beberapa negeri yang tetap mematuhi Madinah dan tidak keluar dari Islam, seperi Juhainah dan lainnya dari suku kaum Qudha'ah. Apabila dia tiba di Wadilqura, Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah, dikenal dengan nama Huraits. Dia maju meninggalkan pasukan itu, hingga tiba di LThna dan dia coba mendapatkan berita di sana, kemudian dia kembali secepatnya dan baru bertemu dengan pasukan Usamah sesudah berjalan selama dua malam dari Ubna itu. Huraits lalu memberitahu Usamah, bahwa rakyat di situ masih belum berbuat apa-apa. Mereka belum berkumpul untuk menentang pasukan yang mereka, dan mengusulkan supaya pasukan Usamah segera menggempur sebelum mereka dapat mengumpulkan pasukan.


Wafatnya

Ia wafat pada tahun 54 hijrah di akhir masa pemerintahan Mu'awiyah, hati Usamah amat rindu sekali hendak berjumpa dengan Allah, hingga ruhnya telah resah gelisah dalam rongga dadanya, ingin kembali kembali ke tempat asalnya. Maka terbukalah pintu-pintu surga untuk menyambut salah seorang yang gemar beramal baik dan bertakwa.

            Referensi
v  Rijaal haular Rasul,edisi indonesia, Khalid Muh Khalid
v  Suwaruum min hayaatis Shohabah,edisi indonesia,Karya Abdurrahman Ra'fat Basya,terbiatan Duran Nafa –is-beirut.
v  (Ibnu Asakir: At-Tarikh 1:120, Kanzul Ummal 5:312. Fathul Bari 8:107),ketiganya dinukil dari web site internet.




































 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grocery Coupons